JAKARTA – Musim kemarau sering dianggap sebagai periode yang lebih aman dari ancaman demam berdarah dengue (DBD). Padahal, anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar. Meski kasus DBD memang cenderung meningkat saat musim hujan, nyamuk Aedes aegypti tetap dapat berkembang biak pada musim kemarau apabila masih tersedia genangan air bersih yang menjadi tempat bertelur.
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menjelaskan bahwa nyamuk penyebab DBD tidak hanya berkembang pada saat curah hujan tinggi. Berbagai wadah penampungan air seperti bak mandi, toren, ember, hingga tempat minum hewan yang jarang dibersihkan dapat menjadi lokasi ideal bagi nyamuk untuk berkembang biak. Kondisi tersebut membuat risiko penularan DBD tetap ada meski cuaca sedang panas dan kering.
Pada musim kemarau, masyarakat justru lebih sering menyimpan cadangan air karena pasokan air bersih di beberapa daerah berkurang. Jika tempat penyimpanan air tersebut tidak dikuras atau ditutup dengan baik, nyamuk dapat dengan mudah meletakkan telur di permukaan dinding wadah. Telur nyamuk bahkan mampu bertahan dalam kondisi kering selama beberapa bulan sebelum menetas ketika kembali terkena air.
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), nyamuk Aedes aegypti berkembang biak di air bersih yang tergenang dan biasanya berada di lingkungan sekitar rumah. Oleh karena itu, pencegahan tidak hanya dilakukan saat musim hujan, tetapi harus menjadi kebiasaan sepanjang tahun agar siklus hidup nyamuk dapat diputus.
Selain ancaman DBD, musim kemarau juga membawa berbagai risiko gangguan kesehatan lainnya. Cuaca yang lebih panas dan kelembapan udara yang rendah dapat menyebabkan tubuh lebih mudah mengalami dehidrasi. Paparan sinar matahari yang tinggi juga meningkatkan risiko heatstroke, terutama bagi orang yang banyak beraktivitas di luar ruangan.
Udara yang lebih kering pada musim kemarau juga membuat debu dan polusi lebih mudah beterbangan. Kondisi tersebut dapat memicu gangguan saluran pernapasan, seperti batuk, pilek, iritasi tenggorokan, hingga memperburuk gejala asma pada sebagian orang. Bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan penderita penyakit kronis, kualitas udara yang buruk dapat memberikan dampak kesehatan yang lebih serius.
Kemenkes mengimbau masyarakat untuk tetap menerapkan langkah-langkah pencegahan DBD melalui gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dengan prinsip 3M Plus. Langkah pertama adalah menguras tempat penampungan air secara rutin minimal seminggu sekali. Kedua, menutup rapat seluruh wadah penyimpanan air agar tidak menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk. Ketiga, mendaur ulang atau memanfaatkan kembali barang bekas yang berpotensi menampung air hujan.
Konsep “Plus” dalam gerakan tersebut meliputi berbagai tindakan tambahan, seperti menggunakan obat antinyamuk, memasang kawat kasa pada ventilasi rumah, memelihara ikan pemakan jentik, serta menaburkan larvasida bila diperlukan. Masyarakat juga dianjurkan mengenakan pakaian berlengan panjang ketika berada di lingkungan yang berisiko tinggi terdapat nyamuk.
Membersihkan lingkungan rumah juga menjadi langkah penting selama musim kemarau. Pot bunga, talang air, wadah bekas, hingga tempat penampungan air hujan perlu diperiksa secara berkala agar tidak menyisakan genangan. Kebiasaan sederhana tersebut terbukti efektif mengurangi populasi nyamuk penyebab DBD.
Di sisi lain, menjaga daya tahan tubuh juga tidak kalah penting. Masyarakat disarankan mencukupi kebutuhan cairan dengan minum air putih secara teratur, mengonsumsi makanan bergizi seimbang, serta beristirahat yang cukup. Saat beraktivitas di luar ruangan, penggunaan tabir surya, topi, atau payung dapat membantu melindungi tubuh dari paparan sinar matahari yang berlebihan.
Apabila mengalami gejala seperti demam tinggi mendadak, sakit kepala, nyeri otot dan sendi, muncul ruam kemerahan, atau tanda perdarahan seperti mimisan dan gusi berdarah, masyarakat sebaiknya segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan. Penanganan sejak dini sangat penting untuk mencegah komplikasi akibat DBD.
Musim kemarau memang identik dengan cuaca cerah, tetapi bukan berarti masyarakat bisa lengah terhadap ancaman penyakit. Nyamuk penyebab DBD tetap dapat berkembang biak apabila lingkungan tidak dijaga kebersihannya. Karena itu, penerapan pola hidup bersih, pengelolaan tempat penampungan air yang baik, serta pelaksanaan gerakan 3M Plus secara rutin menjadi kunci utama untuk mencegah penyebaran DBD sepanjang tahun. (ACH)