Musim kemarau membawa fenomena unik sekaligus nostalgia di Bendungan Karian, Kabupaten Lebak. Menyusutnya debit air waduk secara perlahan menyingkap kembali sisa-sisa pemukiman warga yang selama ini ‘tenggelam’ di dasar bendungan.
Tembok-tembok rumah tanpa atap hingga puing bangunan di wilayah Desa Sukarame dan Desa Sukajaya, Kecamatan Sajira, kini mulai menyembul ke permukaan. Sontak, pemandangan bak ‘kampung mati’ di area hulu waduk ini menarik perhatian warga sekitar.
Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Cidanau Ciujung Cidurian (BBWSC3), Dedi Yudha Lesmana, menjelaskan bahwa fenomena ini sepenuhnya wajar terjadi saat kemarau dan tidak mengganggu fungsi utama bendungan.
“Penurunan muka air sekitar 80 sentimeter dari elevasi normal—atau penyusutan sekitar 5 persen—merupakan kondisi lazim pada musim kemarau. Hal ini masih berada dalam batas aman operasi waduk,” terang Dedi, dilansir dari Detikcom.
Dedi menambahkan, bangunan-bangunan yang kembali terlihat memang sengaja tidak dihancurkan (demolish) saat proses pengisian air (impounding) pada 2024 lalu. Tim konstruksi saat itu hanya melakukan pembersihan (clearing) pada vegetasi dan tanaman. Karena lokasinya berada di hulu yang berjarak 16 kilometer dari as bendungan dengan elevasi cukup tinggi (+64,50 meter), sedikit saja air menyusut, puing permukiman padat tersebut akan langsung terlihat.
Stok Air Baku dan Irigasi Dipastikan Aman
Meski air waduk tampak menyusut, BBWSC3 memastikan pasokan air baku maupun suplai irigasi untuk masyarakat tetap terkendali.
Saat ini, Bendungan Karian merilis debit air sebesar $24\text{ m}^3/\text{detik}$ menuju Bendung Gerak Pamarayan Baru untuk menyuplai Daerah Irigasi (DI) Ciujung. Langkah antisipasi juga terus dipersiapkan hingga puncak musim kemarau yang diprediksi berlangsung sampai Agustus mendatang.
“Pengelolaan tampungan air di seluruh unit kerja dioptimalkan selama tiga bulan ke depan. Ini sejalan dengan arahan Direktur Jenderal Sumber Daya Air, Arnold Ritiauw, guna menjaga ketersediaan air hingga masa transisi musim hujan,” tegas Dedi.



