JAKARTA – Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin memberikan apresiasi kepada Badan Gizi Nasional (BGN) atas langkah melibatkan Kementerian Kesehatan dalam distribusi Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Apresiasi itu disampaikan saat rapat koordinasi lintas kementerian dan lembaga di Kementerian Koordinator Bidang Pangan pada Rabu (29/7/2026) yang membahas penguatan tata kelola MBG.
Menurut Budi, kolaborasi antarlembaga menjadi langkah penting agar distribusi makanan bergizi berjalan lebih tepat sasaran dan mampu menjangkau kelompok yang paling membutuhkan.
Ia menilai Program Makan Bergizi Gratis yang menjadi program prioritas Presiden Prabowo Subianto memiliki dampak besar dalam mengatasi persoalan gizi nasional.
“Saya ingin tekankan bahwa program ini sangat bagus di mata Kementerian Kesehatan. Program Bapak Presiden ini sangat baik,” tegas Budi.
Meski demikian, Budi mengakui pelaksanaan program berskala nasional tersebut masih menghadapi berbagai tantangan yang harus diselesaikan bersama.
Karena itu, ia mengapresiasi langkah cepat Kepala BGN Sudaryono yang baru menjabat sekitar sepekan tetapi langsung membuka ruang koordinasi dengan Kementerian Kesehatan.
“Saya berterima kasih Kepala BGN sudah melibatkan kami,” tutur Budi.
Budi menjelaskan, persoalan gizi masih menjadi salah satu tantangan utama di sektor kesehatan sehingga keberhasilan MBG akan membawa dampak luas bagi kualitas kesehatan masyarakat.
“Jadi kalau program (MBG) ini berhasil, banyak sekali masalah kesehatan yang bisa terselesaikan,” tegas Budi.
Data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2024 yang dianalisis Kementerian Kesehatan menunjukkan kelompok masyarakat pada empat desil terbawah masih menghadapi persoalan kekurangan gizi.
“Jika 1 desil itu 10% dari 28 juta, maka 4 desil itu sekitar 112 juta masyarakat Indonesia yang kekurangan gizi,” tegasnya.
Selain itu, prevalensi stunting nasional masih berada sedikit di bawah 20 persen sehingga jutaan anak masih membutuhkan intervensi gizi yang berkelanjutan.
Budi mengatakan kondisi gizi anak sangat menentukan kualitas sumber daya manusia Indonesia pada masa mendatang sehingga penanganannya harus menjadi prioritas.
Hasil program Cek Kesehatan Gratis juga memperlihatkan mayoritas siswa hingga tingkat SMA masih mengalami kekurangan gizi meski sebagian lainnya menghadapi kelebihan gizi.
Fenomena gizi berlebih lebih banyak ditemukan pada kelompok remaja SMA dan masyarakat dewasa di kawasan perkotaan sehingga diperlukan pendekatan yang berbeda.
Menurut Budi, mayoritas persoalan yang masih mendominasi tetap berupa kekurangan gizi sehingga Program Makan Bergizi Gratis dinilai relevan untuk menjawab kebutuhan tersebut.
Ia berharap sinergi antara BGN dan Kementerian Kesehatan semakin memperkuat tata kelola MBG agar manfaat program benar-benar dirasakan masyarakat luas.***



