Jumlah korban tewas akibat gempa bumi berkekuatan magnitudo 6,8 yang menguncang Prefektur Kumamoto, Pulau Kyushu, Jepang, melonjak menjadi 34 orang pada Kamis. Tim SAR gabungan hingga kini masih berpacu dengan waktu menyisir reruntuhan demi menemukan korban selamat pasca-bencana yang terjadi pada Selasa lalu.
Gempa dangkal berkedalaman 10 km tersebut meluluhlantakkan kawasan permukiman, merusak jaringan listrik, hingga memicu insiden fatal di beberapa fasilitas publik.
Tragedi Mal Aeon Kashima dan Ledakan Gas
Salah satu titik kehancuran terparah terjadi di pusat perbelanjaan Aeon Mall di kawasan Kashima. Sebagian lantai dua mal yang baru saja selesai direnovasi dan dibuka bulan lalu tersebut runtuh, menimpa para pengunjung.
Kondisi makin mencekam ketika sebuah ledakan dahsyat merusak bangunan mal sekitar satu jam setelah gempa utama. Presiden Aeon menyebut ledakan tersebut “sangat mungkin” dipicu oleh kebocoran gas, meski penyelidikan resmi masih berjalan.
Di tengah kepanikan, pengelola kafe kucing di dalam mal mengonfirmasi bahwa seluruh 25 ekor kucing yang sempat tertinggal saat evakuasi berhasil diselamatkan tanpa cedera.
Selain di pusat perbelanjaan, operasi penyelamatan berskala besar juga difokuskan di pabrik Nippon Paper di Kota Yatsushiro. Gedung pabrik tersebut roboh sebagian dan menewaskan sedikitnya lima orang. Dari 11 pekerja yang sempat terjebak, tujuh di antaranya berhasil dievakuasi dalam kondisi selamat.
Ancaman Baru: Gelombang Panas Ekstrem 39°C & Heatstroke
Usai selamat dari guncangan gempa, sekitar 9.000 warga yang kehilangan tempat tinggal kini harus menghadapi ancaman mematikan lainnya: gelombang panas ekstrem.
Prakiraan cuaca menunjukkan suhu di Kumamoto bakal melonjak hingga 39°C dalam beberapa hari ke depan. Hal ini memperparah kondisi pengungsian yang sempat lumpuh total akibat terputusnya aliran listrik dan pasokan air bersih.
Yukiya Sanoue, seorang petugas di pusat pengungsian yang menampung 1.000 warga (30% di antaranya lansia), menyebut heatstroke (sengatan panas) sebagai ancaman paling krusial saat ini.
“Listrik dan air mati total sejak gempa. Kami baru mendapatkan pendingin udara (AC) setelah generator bantuan tiba pada Rabu siang. Banyak pengungsi mulai menunjukkan gejala terserang heatstroke, dan beberapa orang sudah dilarikan ke rumah sakit,” tutur Sanoue.
Guna mengatasi krisis kesehatan ini, Menteri Pertahanan Jepang Shinjiro Koizumi mengumumkan pengiriman 300 unit AC darurat ke Kumamoto, di mana 150 unit di antaranya dialokasikan khusus untuk pusat-pusat pengungsian.
Hingga saat ini, lebih dari 100 kali gempa susulan (aftershocks) terus menggoyang kawasan Kumamoto. Ketakutan akan adanya guncangan susulan yang lebih besar memaksa ribuan warga memilih tidur di dalam mobil mereka.
Lebih dari 30.000 rumah dilaporkan masih mengalami pemadaman listrik total. Bencana ini membawa kenangan kelam bagi warga Kumamoto, yang pada April 2016 silam juga pernah dihantam serangkaian gempa dahsyat yang menewaskan 278 orang.



