Kisah ajaib nan menyentuh hati datang dari perairan Samudra Pasifik. Esau Sidemo (57), seorang nelayan asal Desa Bido, Kecamatan Pulau Batang Dua, Kota Ternate, Maluku Utara, berhasil ditemukan dalam keadaan selamat setelah terombang-ambing selama 26 hari di lautan lepas akibat terbawa arus sejak 7 Juli 2026.
Saat ditanya oleh pihak keluarga mengenai caranya bertahan hidup tanpa perbekalan memadai di tengah samudra, Esau memberikan kesaksian yang menggetarkan hati.
“Waktu kakak kami bertanya beliau makan apa sampai bisa bertahan hidup, Papa Ade (Esau Sidemo) hanya menjawab, ‘Tuhan yang kirim makanan, sehingga saya merasa kenyang,’” tutur Norfen Konyenye, keponakan Esau, Selasa (4/8/2026) dilansir dari Kompas com.
Murni Mata Telanjang Awak Kapal Prancis
Titik terang keselamatan Esau bermula ketika Com Center Kansar Ternate menerima laporan pada Minggu (2/8/2026). Esau rupanya berhasil diselamatkan oleh kapal kargo berbendera Prancis, LNG Endeavour, yang tengah melintas di Samudra Pasifik pada Sabtu (1/8/2026) sore.
Kepala Kantor SAR Ternate, Iwan Ramdani, mengungkapkan bahwa perahu kayu kecil yang ditumpangi Esau tidak terdeteksi oleh radar navigasi kapal.
“Korban murni terdeteksi berkat kejelian penglihatan visual salah satu awak kapal. Melihat perahu kecil tersebut, kapal LNG Endeavour segera memutar haluan. Saat kapal mendekat, Esau melompat ke laut untuk meraih pelampung penyelamat yang dilemparkan kru,” terang Iwan.
Penanganan Medis Jarak Jauh dan Pelayaran Menuju China
Saat berhasil dievakuasi ke atas kapal melalui gangway, kondisi fisik Esau sangat lemah. Tim medis kapal langsung memberikan pertolongan pertama yang dipandu langsung melalui konsultasi medis jarak jauh (telemedicine) bersama dokter profesional dari Prancis.
Setelah kondisinya stabil, Esau ditempatkan di kabin penumpang. Saat ini, kapal LNG Endeavour tengah melanjutkan pelayaran menuju Yangshan LNG Terminal di Shanghai, China, dengan estimasi tiba pada 7 atau 8 Agustus 2026.
Isak Tangis Keluarga dan Pengawalan Diplomatik
Kabar keselamatan Esau disambut tangis haru oleh keluarga besar di Ternate. Melalui sambungan video call singkat menggunakan ponsel salah satu kru kapal, keluarga akhirnya bisa melihat langsung kondisi Esau yang kian membaik.
“Kami sangat senang Papa Ade ditemukan selamat, meski sedih melihat kondisinya yang sempat sangat lemah. Selama pencarian, keluarga tidak pernah berhenti berdoa,” ungkap Norfen.
Kantor SAR Ternate bersama Basarnas Command Center kini terus berkoordinasi dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) dan Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Shanghai untuk mengawal proses pemulangan Esau dari China kembali ke kampung halamannya di Batang Dua, Ternate.



