JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) memulai perdagangan Rabu (5/8/2026) di zona hijau seiring meningkatnya optimisme investor menjelang pengumuman data pertumbuhan ekonomi Indonesia.
IHSG dibuka di level 6.325 atau naik 5,39 poin setara 0,09 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya.
Sementara itu, indeks LQ45 justru bergerak melemah tipis sebesar 1,29 poin atau 0,20 persen ke posisi 633,92 pada awal sesi perdagangan.
Sentimen positif berlanjut setelah IHSG pada perdagangan Selasa (4/8/2026) ditutup melonjak 1,37 persen ke level 6.319,61.
Kenaikan tersebut didorong derasnya aliran dana asing dengan nilai beli bersih atau net buy mencapai Rp741,19 miliar.
Aksi akumulasi investor asing paling besar terjadi pada saham-saham sektor perbankan dan jasa keuangan.
Saham BBCA, BMRI, BBRI, dan BBNI menjadi emiten yang paling banyak diborong investor asing sepanjang perdagangan sebelumnya.
“Secara teknikal IHSG diprakirakan IHSG akan menguji resistansi di level 6.370-6.400,” kata Tim Analis Pasar Modal, Phintraco Sekuritas, Rabu, 5 Agustus 2026.
Tim Phintraco menyebut perhatian pelaku pasar kini tertuju pada publikasi data pertumbuhan ekonomi Indonesia oleh Badan Pusat Statistik (BPS).
“Menurut konsensus pasar, pertumbuhan ekonomi triwulan II diperkirakan melambat menjadi 5,1 persen secara tahunan. Di triwulan I 2026, pertumbuhan ekonomi sebesar 5,61 persen,” ujar Tim Phintraco.
Perlambatan tersebut masih dinilai berada dalam kisaran yang sehat di tengah tekanan ekonomi global yang belum sepenuhnya mereda.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai fundamental ekonomi nasional tetap solid meski menghadapi berbagai tantangan dari luar negeri.
Investasi yang terus tumbuh diperkirakan menjadi salah satu penopang utama aktivitas ekonomi sepanjang kuartal II tahun ini.
Sinergi kebijakan pemerintah bersama otoritas ekonomi juga diyakini membantu menjaga stabilitas dan momentum pertumbuhan nasional.
Selain investasi, konsumsi rumah tangga diproyeksikan tetap menjadi motor utama penggerak ekonomi Indonesia.
Daya beli masyarakat dinilai tetap terjaga berkat program perlindungan sosial serta kebijakan stabilisasi harga pangan dan energi.
Stimulus ekonomi selama masa libur sekolah pada kuartal II turut memperkuat konsumsi domestik dan aktivitas belanja masyarakat.
Upaya pemerintah menciptakan lapangan kerja juga menjadi faktor yang menopang permintaan dalam negeri.
Di sisi lain, pemerintah tengah menyiapkan insentif baru untuk mempercepat penggunaan kendaraan listrik di Indonesia.
Kebijakan tersebut meliputi PPN Ditanggung Pemerintah serta pembebasan hingga 100 persen PPnBM bagi kendaraan listrik tertentu.
Pemerintah juga menyiapkan insentif sebesar 40 persen untuk kategori mobil listrik tertentu guna meningkatkan adopsi kendaraan ramah lingkungan.
Langkah tersebut diharapkan mampu menekan konsumsi bahan bakar minyak sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap impor minyak.
“Di sisi lain, insentif akan meningkatkan persaingan di industri otomotif. Terutama terhadap penjualan mobil konvensional di pasar domestik,” kata Tim Phintraco menutup analisisnya.***