JAKARTA – Nilai tukar rupiah menunjukkan penguatan setelah Presiden Prabowo Subianto mengusulkan Destry Damayanti sebagai calon tunggal Gubernur Bank Indonesia (BI). Keputusan tersebut menjadi perhatian pelaku pasar karena Destry dinilai memiliki pengalaman panjang di sektor keuangan dan telah berada di dalam struktur bank sentral selama beberapa tahun.
Penguatan rupiah terjadi bersamaan dengan munculnya kepastian mengenai calon yang akan memimpin BI setelah sebelumnya posisi gubernur bank sentral mengalami perubahan. Berdasarkan laporan sejumlah media ekonomi, rupiah pada perdagangan Senin, 10 Agustus 2026, bergerak menguat terhadap dolar Amerika Serikat. Salah satu laporan mencatat rupiah menguat hingga sekitar Rp17.739 per dolar AS.
Sentimen positif tersebut menunjukkan bahwa pasar merespons pencalonan Destry secara relatif baik. Investor melihat sosok Destry bukan sebagai figur baru di BI. Ia sebelumnya menjabat sebagai Deputi Gubernur Senior BI dan telah terlibat dalam berbagai kebijakan yang berkaitan dengan stabilitas moneter serta sistem keuangan.
Bank Indonesia mencatat Destry kembali dilantik sebagai Deputi Gubernur Senior pada Agustus 2024 untuk periode 2024-2029. Sebelumnya, ia pertama kali menduduki jabatan tersebut pada 2019. Dengan pengalaman tersebut, pencalonannya sebagai Gubernur BI memberikan sinyal adanya kesinambungan dalam arah kebijakan bank sentral.
Pasar Menilai Ada Kepastian Kebijakan
Salah satu faktor yang membuat pencalonan Destry mendapat perhatian pasar adalah pengalamannya di bidang ekonomi dan keuangan. Sebelum bergabung dengan BI, Destry pernah berkarier sebagai ekonom, termasuk menjadi Kepala Ekonom Bank Mandiri serta anggota Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).
Pengalaman tersebut membuat pelaku pasar menilai Destry memahami dinamika pasar keuangan sekaligus tantangan yang dihadapi perekonomian Indonesia. Reuters melaporkan bahwa pencalonan Destry disambut pasar karena ia dipandang dapat menjaga kesinambungan kebijakan moneter, khususnya dalam menjaga stabilitas nilai tukar dan mengelola keseimbangan antara pengendalian inflasi serta dukungan terhadap pertumbuhan ekonomi.
Dalam beberapa kesempatan sebelumnya, Destry juga menyampaikan pentingnya menjaga stabilitas rupiah di tengah ketidakpastian ekonomi global. BI pada April 2026 mencatat Destry menekankan bahwa dinamika global dapat memberikan tekanan terhadap pasar keuangan dan nilai tukar sehingga diperlukan bauran kebijakan yang terukur untuk menjaga ketahanan ekonomi domestik.
Penguatan Rupiah Belum Berarti Asing Langsung Masuk Bursa
Meski rupiah mendapat sentimen positif, penguatan mata uang nasional tidak serta-merta berarti investor asing akan langsung membanjiri pasar saham Indonesia. Pergerakan aset keuangan tetap dipengaruhi banyak faktor, mulai dari kondisi ekonomi global, kebijakan suku bunga Amerika Serikat, imbal hasil surat utang, hingga prospek pertumbuhan ekonomi domestik.
Pasar juga masih akan mencermati proses politik dan kelembagaan sebelum Destry benar-benar menduduki posisi Gubernur BI. Reuters menyebut pencalonan tersebut masih harus mendapatkan persetujuan parlemen. Proses tersebut menjadi bagian penting sebelum pergantian kepemimpinan bank sentral dapat diselesaikan.
Di sisi lain, kesinambungan kebijakan menjadi salah satu hal yang berpotensi memberikan rasa aman bagi investor. Destry telah lama berada di lingkungan BI sehingga pasar tidak perlu menghadapi perubahan arah kebijakan secara drastis apabila ia nantinya resmi menjadi gubernur.
Tantangan Besar Menanti Destry
Jika disetujui, Destry akan menghadapi sejumlah tantangan besar. Stabilitas rupiah menjadi salah satu perhatian utama karena tekanan terhadap nilai tukar dapat memengaruhi harga barang impor dan inflasi. BI sendiri memiliki mandat untuk menjaga stabilitas nilai rupiah, stabilitas sistem pembayaran, serta turut menjaga stabilitas sistem keuangan guna mendukung pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.
Selain itu, BI juga dituntut mampu menjaga keseimbangan antara stabilitas ekonomi dan kebutuhan untuk mendorong pertumbuhan. Dalam kebijakan perbankan, Destry sebelumnya telah menyoroti masih terbukanya ruang penyaluran kredit untuk mendukung aktivitas ekonomi dan sektor produktif.
Dengan demikian, penguatan rupiah setelah pencalonan Destry dapat dibaca sebagai respons awal pasar terhadap munculnya kepastian mengenai calon pemimpin BI. Namun, arah rupiah dan pasar keuangan ke depan tetap akan ditentukan oleh kombinasi kebijakan domestik dan perkembangan ekonomi global.
Bagi investor, perkembangan proses pencalonan Destry menjadi salah satu hal yang patut diperhatikan dalam beberapa waktu ke depan. Jika proses berjalan lancar dan pasar melihat adanya kesinambungan kebijakan moneter, sentimen positif terhadap aset Indonesia berpotensi berlanjut. Namun, tantangan menjaga stabilitas rupiah di tengah tekanan global tetap menjadi pekerjaan besar bagi calon Gubernur BI berikutnya. (ACH)