JAKARTA – Perdebatan mengenai siapa pencetak angka terbaik kembali mengemuka setelah mantan pemain NBA Jeff Teague membandingkan Luka Doncic dengan James Harden.
Doncic baru melewati musim penuh pertamanya bersama Los Angeles Lakers dan langsung memperlihatkan kemampuan ofensif yang luar biasa.
Bintang asal Slovenia itu bahkan merebut gelar pencetak angka terbanyak NBA untuk kedua kalinya sepanjang kariernya.
Doncic membukukan rata-rata 33,5 poin, 7,7 rebound, dan 8,3 assist per pertandingan dengan akurasi tembakan 47,6 persen.
Ia juga mampu mencatatkan persentase 36,6 persen dari area tiga angka sepanjang musim tersebut.
Catatan itu memperkuat status Doncic sebagai salah satu scorer paling produktif di NBA sekaligus pusat permainan Lakers.
Namun, Jeff Teague memiliki pandangan berbeda ketika diminta membandingkan Doncic dengan Harden melalui Club 520 Podcast.
Menurut Teague, Harden lebih unggul dalam menciptakan peluang mencetak angka karena kemampuannya mengendalikan dan memanipulasi pertahanan lawan.
“Menurut saya, James lebih mudah mencetak angka dibandingkan Luka,” ujar Teague dikutip dari Sport Illustrated, Rabu.
“Luka juga sangat mudah mencetak angka, tetapi mereka berdua sama-sama memegang bola cukup lama dan James jauh lebih mudah memanipulasi pertahanan.”
“Pada dasarnya, Anda harus melakukan pelanggaran terhadapnya atau dia akan mencetak layup maupun melepaskan tembakan tiga angka melalui gerakan step-back.”
“Rasanya benar-benar sulit untuk menghentikannya,” lanjut Teague.
Penilaian tersebut tidak lepas dari performa Harden ketika berada di puncak kariernya bersama Houston Rockets.
Harden pernah mencetak sedikitnya 29 poin per pertandingan selama enam musim berturut-turut ketika menjadi pusat permainan Rockets.
Kemampuan isolasi, step-back tiga angka, penetrasi, dan eksploitasi terhadap celah pertahanan membuat Harden menjadi salah satu scorer paling sulit dihentikan pada masanya.
Situasinya kini berbeda karena Harden tidak lagi menjadi satu-satunya mesin serangan utama dalam sebuah tim.
Dalam narasi sumber, Harden disebut menjalankan peran sebagai pencetak angka sekunder di Cleveland Cavaliers bersama Donovan Mitchell.
Meski demikian, kemampuan Harden untuk menghasilkan angka dalam jumlah besar tetap menjadi ancaman bagi pertahanan lawan.
Perbandingan tersebut juga harus mempertimbangkan pengalaman karena Harden memiliki jam terbang NBA yang jauh lebih panjang dibandingkan Doncic.
Doncic masih mempunyai banyak waktu untuk membangun warisan ofensifnya dan mengejar pencapaian Harden dalam sejarah NBA.
Bagi Doncic, persoalan utama kini bukan sekadar memenangkan perdebatan sebagai scorer terbaik.
Fokus terbesar pemain Lakers tersebut adalah membawa Los Angeles kembali bersaing untuk gelar juara NBA dan mengejar banner ke-18 dalam sejarah klub.
Perubahan besar juga terjadi di Lakers setelah LeBron James disebut meninggalkan Los Angeles menuju Philadelphia 76ers pada musim panas ini.
Situasi itu membuat Doncic menjadi figur utama Lakers dengan Austin Reaves diproyeksikan ikut memikul beban mencetak angka.
Lakers juga menambah sejumlah pemain baru, termasuk center muda Walker Kessler yang diharapkan mampu memberikan kekuatan tambahan di area paint.
Musim berikutnya akan menjadi ujian penting bagi Doncic untuk membuktikan bahwa produktivitas individunya dapat diterjemahkan menjadi keberhasilan tim.
Jika mampu mempertahankan level mencetak angkanya sekaligus membawa Lakers kembali menjadi kandidat juara, posisi Doncic dalam perdebatan scorer NBA akan semakin kuat.
Sementara itu, argumen Teague menunjukkan bahwa perbandingan Doncic dan Harden tidak hanya ditentukan oleh statistik, tetapi juga cara seorang pemain menciptakan dan memaksakan peluang mencetak angka.***


