Hari kedua penyelenggaraan Festival Indonesia di Chuo Koen, Prefektur Chiba, Jepang, Minggu (9/8/2026), berubah menjadi ajang kericuhan. Acara yang semula dirancang sebagai wadah promosi budaya dan silaturahmi Warga Negara Indonesia (WNI) tersebut mendadak tidak kondusif akibat aksi saling dorong hingga adu tinju antar-pengunjung.
Dalam video yang viral di media sosial, suasana festival tampak memanas di tengah kerumunan massa. Insiden ini tak hanya merusak suasana, tetapi juga memicu kegeraman para pedagang lokal hingga sorotan tajam dari Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Tokyo.
KBRI Panggil Penyelenggara, Ingatkan Pentingnya Menjaga Nama Baik
Menanggapi gejolak di media sosial, KBRI Tokyo bertindak cepat dengan memanggil pihak panitia penyelenggara guna meminta laporan resmi serta kronologi utuh peristiwa tersebut.
“KBRI Tokyo saat ini sedang memanggil panitia untuk mendapatkan laporan lengkap terkait kejadian yang ramai diperbincangkan. Kami terus mengimbau agar kegiatan festival semacam ini benar-benar dimanfaatkan sebagai ajang promosi budaya, silaturahmi, serta memperkuat pemahaman positif dengan warga lokal Jepang,” tegas pihak KBRI Tokyo.
Kritikan Pedas Diaspora: Kesiapan Mental Pekerja Muda Dipertanyakan
Aksi tidak terpuji ini memicu keprihatinan mendalam dari para WNI senior yang telah lama menetap di Jepang. Siwi, seorang tokoh komunitas WNI, menilai ada pergeseran kualitas dan kedisiplinan peserta yang berangkat ke Jepang dibanding era dulu.
“Dulu, sekitar tahun 2005, kami wajib menjalani pelatihan fisik dan mental yang sangat ketat selama berbulan-bulan sebelum diberangkatkan ke Jepang,” ungkap Siwi.
Senada dengan Siwi, Yasir—seorang WNI lainnya—menyebut banyak anak muda yang datang belakangan ini belum memiliki kesiapan mental dan adaptasi budaya yang cukup. Ia mengritik Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) yang terkesan abai memberikan pembekalan dasar mengenai aturan hukum dan etika di Jepang.
“Berbeda dengan program IMM Jepang yang disiplin, sekarang banyak LPK tidak memberikan pelatihan mental dasar dan pemahaman budaya. Semoga kejadian ini jadi pembelajaran besar. Tugas terpenting kita di sini adalah menjaga nama baik bangsa,” cecar Yasir.
Kekesalan juga diutarakan para pelaku usaha di lokasi. Salah seorang pedagang kedai mengaku omzet dan kenyamanan usahanya terganggu akibat antrean yang kacau dan suasana yang mencekam.
Klarifikasi Mahajob: Larang Alkohol & Bantah Rusuh Skala Besar
Setelah sempat bungkam, pihak penyelenggara dari Mahajob (bukan Mega Job) akhirnya memberikan tanggapan tertulis. Pihaknya membenarkan adanya percekcokan di lapangan, namun mengklaim keributan tersebut dapat diredam dengan cepat oleh tim keamanan sehingga tidak meluas keluar area taman.
Mahajob menegaskan bahwa sejak awal pihaknya telah menetapkan SOP ketat, termasuk melarang keras penjualan minuman beralkohol di dalam area festival serta menggandeng kepolisian lokal.
“Sejak awal kami menetapkan aturan melarang penjualan alkohol di area acara serta berkoordinasi langsung dengan kepolisian setempat untuk pengamanan dan patroli berkala,” tulis pernyataan resmi Mahajob.


