JAKARTA — Mundurnya Jannik Sinner dari Cincinnati Open kembali menyoroti persoalan besar yang membayangi tenis putra dunia.
Petenis nomor satu dunia itu menarik diri karena cedera lutut kanan, hanya beberapa hari sebelum turnamen Masters 1000 tersebut dimulai.
Keputusan Sinner menambah daftar panjang absennya pemain elite dalam kalender ATP sepanjang musim 2026.
Carlos Alcaraz lebih dulu memastikan tidak tampil di Cincinnati akibat cedera pergelangan tangan yang masih membutuhkan pemulihan.
Cedera tersebut sebelumnya juga membuat Alcaraz melewatkan French Open dan Wimbledon pada musim ini.
Situasi semakin menarik perhatian karena Novak Djokovic juga memilih tidak tampil di Canadian Open di Montreal.
Djokovic kini lebih selektif menentukan turnamen demi menjaga kondisi fisik dan memperpanjang kariernya di level tertinggi.
Fokus petenis Serbia itu pada turnamen Grand Slam membuat sejumlah Masters 1000 mulai kehilangan daya tarik pemain papan atas.
Mengutip laporan The Telegraph, Rabu (12/8/2026), masalahnya bukan hanya absensi satu atau dua nama, melainkan pola berulang yang mulai mengubah wajah kompetisi tenis putra.
Dari 10 besar dunia, hanya Alexander Zverev, Daniil Medvedev, Alex de Minaur dan Flavio Cobolli yang mengikuti seluruh Masters 1000 musim ini.
Canadian Open bahkan menghadirkan gambaran lebih ekstrem mengenai masalah tersebut dengan banyak unggulan gagal melangkah jauh.
Zverev, Medvedev, Taylor Fritz dan Cobolli semuanya tersingkir tanpa memenangi pertandingan di Montreal.
Babak perempat final kemudian diisi delapan pemain berusia maksimal 25 tahun, menunjukkan munculnya generasi baru di tengah absennya para bintang.
Daftar tersebut terdiri dari Ben Shelton, Rafael Jodar, Jakub Mensik, Learner Tien, Luciano Darderi, Arthur Fils, Brandon Nakashima dan Daniel Merida.
Pertama Kali Sejak 1991
Turnamen Montreal 2026 juga mencatat sejumlah statistik tidak biasa yang memperkuat kekhawatiran terhadap kondisi tenis putra.
Untuk pertama kalinya sejak 1991, tidak ada pemain lima besar yang mencapai babak ketiga Masters 1000 tersebut.
Montreal juga menjadi Masters 1000 pertama tahun ini yang hanya memiliki satu pemain top 10 di perempat final.
Ben Shelton menjadi satu-satunya wakil 10 besar yang bertahan hingga delapan besar dalam turnamen tersebut.
Kondisi ini berbeda jauh dari era ketika nama-nama seperti Rafael Nadal, Roger Federer dan Djokovic rutin memenuhi fase akhir Masters 1000.
Pada edisi 2009 di kota yang sama, seluruh delapan unggulan teratas bahkan berhasil mencapai perempat final.
Persoalan jadwal kemudian kembali menjadi sorotan karena kalender ATP dianggap semakin menuntut fisik pemain.
Professional Tennis Players Association (PTPA) mengaitkan padatnya musim dengan meningkatnya berbagai jenis cedera pemain.
Organisasi tersebut menyebut analisis lebih dari 30.000 pertandingan profesional selama delapan tahun sebagai dasar evaluasinya.
Menurut PTPA, cedera tubuh bagian atas meningkat 42 persen pada kuartal pertama 2026 dibandingkan rata-rata tujuh tahun sebelumnya.
Cedera lengan disebut melonjak 112 persen, sementara cedera yang mengakhiri pertandingan naik 53 persen.
Kasus cedera berulang juga dilaporkan meningkat 55 persen dalam periode yang sama.
PTPA Kritik Keras
PTPA menilai format Masters 1000 berdurasi 12 hari ikut memperbesar beban kompetisi yang harus ditanggung pemain.
Tujuh dari sembilan turnamen Masters 1000 kini menggunakan format 12 hari setelah sejumlah ajang memperpanjang durasinya.
Petenis Jerman, Alexander Zverev pernah mengkritik perubahan tersebut dengan mempertanyakan manfaat format dua pekan bagi pemain maupun penonton.
“Sejujurnya, saya belum mendengar satu pun pemain mengatakan mereka menyukai Masters dua pekan.”
“Saya juga tidak yakin penggemar menyukainya karena mereka tidak ingin menunggu dua hari untuk melihat pemain favoritnya bertanding lagi.”
“Saya memahami tenis adalah bisnis, tetapi saya tidak yakin rencana bisnis itu berjalan dengan sangat baik saat ini.”
Komentar Zverev menggambarkan ketegangan antara kebutuhan komersial turnamen dan tuntutan fisik yang semakin besar terhadap pemain.
ATP memang telah mengurangi kewajiban turnamen kategori 500 dari lima menjadi empat setelah mendapat banyak kritik terkait jadwal.
Namun, kewajiban mengikuti delapan Masters 1000 tetap dipertahankan dalam kalender utama ATP.
Pemain yang melewatkan turnamen wajib dapat kehilangan bagian dari bonus pada turnamen berikutnya, kecuali absensi tersebut disebabkan cedera.
Skema itu tetap sulit memaksa pemain papan atas tampil di setiap Masters karena mereka memiliki sumber pendapatan lain.
Sinner dan Alcaraz, misalnya, dapat memperoleh bayaran besar melalui ajang ekshibisi seperti Six Kings Slam.
Dengan kondisi tersebut, insentif finansial dari sistem bonus ATP belum tentu cukup untuk mengalahkan kebutuhan menjaga kebugaran.
Situasi ini menjadi semakin penting menjelang US Open karena Cincinnati merupakan salah satu turnamen pemanasan terakhir sebelum Grand Slam tersebut.
Absennya Sinner dan Alcaraz membuat persaingan Cincinnati kehilangan dua magnet terbesar, sekaligus membuka peluang bagi pemain generasi berikutnya.
Bagi ATP, persoalannya bukan sekadar siapa yang memenangkan turnamen, tetapi apakah produk kompetisi tetap menarik ketika bintang utama terlalu sering absen.
Tenis membutuhkan kalender yang kompetitif untuk menghasilkan pendapatan, tetapi pemain sehat tetap menjadi fondasi utama pertunjukan.
Jika cedera terus memaksa nama-nama terbesar mengurangi jadwal, pertandingan elite berisiko berubah menjadi sesuatu yang hanya muncul pada kesempatan tertentu.
Karena itu, kasus Sinner, Alcaraz dan Djokovic kembali menempatkan persoalan beban kalender sebagai salah satu tantangan terbesar ATP.
Masa depan tenis putra kini bukan hanya soal menemukan juara baru, tetapi juga menjaga agar para bintang mampu bertahan cukup lama untuk tampil bersama.***


