Aktivitas tektonik pascagempa bumi utama M 7,7 yang mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Sabtu (15/8/2026) lalu masih terus bergejolak. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat sebanyak 1.624 kali gempa susulan telah mengguncang NTT hingga Senin (17/8/2026) pukul 11.00 WIB.
Dari ribuan gempa susulan tersebut, BMKG mencatat guncangan terbesar mencapai Magnitudo 6,2. Sebanyak 23 kejadian berada di kisaran Magnitudo 5, dan 59 gempa di antaranya getarannya dirasakan langsung oleh masyarakat.
Terjunkan Tim Gabungan Cek Karakteristik Tanah dan Tsunami
Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto, menyampaikan bahwa BMKG telah mengutus tim gabungan dari pusat dan UPT ke titik-titik bencana untuk melakukan survei dampak kerusakan tanah secara ilmiah.
“Kami menerjunkan tim gabungan untuk melakukan survei makroseismik, pengukuran mikrotremor, dan MASW. Langkah ini krusial untuk mengetahui karakteristik serta respons tanah terhadap guncangan, memantau gempa susulan, hingga memverifikasi dampak tsunami di lapangan sebagai pijakan proses pemulihan dan rekonstruksi,” papar Wijayanto.
Selain survei teknis, BMKG aktif melakukan sosialisasi langsung guna menenangkan warga pascaguncangan. BMKG mewanti-wanti masyarakat agar tidak menempati atau mendekati bangunan yang retak dan rusak akibat gempa.
Memicu Tsunami dan Status Siaga di Sejumlah Wilayah
Sebagaimana diketahui, gempa utama berkekuatan M 7,7 mengguncang Flores pada Sabtu pagi pukul 04.58 WIB. Gempa dangkal akibat aktivitas tektonik Flores Back-Arc dengan mekanisme pergerakan naik (thrust fault) ini sempat memicu peringatan dini tsunami.
Dampak guncangan dan gelombang sempat menetapkan status Siaga untuk wilayah Manggarai Bagian Utara, Ngada Bagian Utara, Ende, Flores Timur, dan Jeneponto. Sementara status Waspada diberlakukan di Bima, Dompu, hingga Wajo. Peringatan dini tsunami kemudian resmi diakhiri 2 jam 31 menit pascagempa utama.
BNPB: 55 Jiwa Meninggal Dunia, Bantuan Pemulihan Dirilis Paralel
Di sisi penanganan darurat, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Suharyanto mengonfirmasi bahwa jumlah korban meninggal dunia akibat gempa NTT kini berada di angka 55 jiwa, sementara pendataan korban luka-luka masih bergerak dinamis.
Suharyanto meminta pemerintah daerah segera mempercepat skema pendataan kerusakan pemukiman warga (rusak ringan, sedang, hingga berat) dan fasilitas umum secara cepat dan fleksibel.
“Pendataan tidak perlu menunggu rampung 100 persen. Begitu ada data valid yang masuk, perbaikan dan bantuan langsung kita proses eksekusi agar penanganan bencana berjalan lebih cepat,” tegas Suharyanto.



