JAKARTA – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat lebih dari 3.000 gempa susulan di Flores hingga 19 Agustus 2026 pukul 15.00 WITA.
Aktivitas tersebut terjadi setelah gempa utama berkekuatan Magnitudo 7,7 mengguncang wilayah Flores pada Sabtu, 15 Agustus 2026.
Data BMKG menunjukkan gempa susulan memiliki magnitudo M1,1 hingga M6,2 selama periode pemantauan.
Dari ribuan kejadian itu, sebanyak 24 gempa tercatat berkekuatan lebih dari M5 dan 81 lainnya dirasakan masyarakat.
Bahkan pada hari ini, Kamis (20/8/2026) masih terjadi gempa berkekuatan M5,8 sekitar 34 kilometer timur laut Ruteng, Kabupaten Manggarai, dengan pusat gempa berada pada kedalaman 10 kilometer.
Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Wijayanto mengatakan aktivitas susulan diperkirakan masih berlangsung beberapa pekan.
“Berdasarakan data sementara gempa susulan ini akan berakhir 3 – 4 minggu ke depan. Masyarakat diimbau tetap tenang dan waspada gempa bumi susulan yang masih terjadi,” kata Wijayanto di Jakarta, Rabu (19/8).
Gempa utama Flores terjadi pukul 04.58 WIB dengan mekanisme thrust fault akibat aktivitas tektonik di Flores Back-Arc.
BMKG menyebut gempa tersebut tergolong dangkal sehingga guncangannya berdampak luas dan memicu tsunami di sejumlah wilayah.
Peringatan Dini Tsunami pertama diterbitkan BMKG dua menit 16 detik setelah gempa dengan status Siaga dan Waspada.
Status Siaga mencakup ancaman tsunami 0,5 hingga 3 meter, sedangkan status Waspada berlaku untuk potensi kurang dari 0,5 meter.
Peringatan tersebut kemudian diakhiri pada pukul 07.30 WIB setelah BMKG melakukan pemantauan terhadap kondisi tsunami.
Tsunami Terdeteksi di 16 Lokasi
Hasil pengamatan stasiun pasang surut menunjukkan tsunami terdeteksi di 16 lokasi yang tersebar pada empat provinsi.
Wilayah yang terdampak mencakup Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Tenggara.
Ketinggian tsunami terbesar tercatat di Pota, Manggarai Timur, NTT, dengan tinggi 1,605 meter pada pukul 05.03 WIB.
Sementara tsunami terendah terukur di Bakalang, Alor, NTT, dengan ketinggian 0,14 meter pada pukul 05.41 WIB.
Korban dan Kerusakan
Gempa Flores M7,7 berdasarkan data sementara menyebabkan 69 orang meninggal dunia dan 331 orang mengalami luka-luka.
Kerusakan bangunan dilaporkan terjadi di sejumlah daerah, terutama Manggarai Barat, Manggarai, Manggarai Timur, Sikka, hingga Maumere.
Tingkat kerusakan bervariasi mulai dari ringan sampai berat sehingga diperlukan pemeriksaan lapangan untuk mendukung pemulihan.
Tiga Kajian Utama BMKG
BMKG kini menjalankan tiga kajian utama, yakni survei makroseismik, pengukuran mikrotremor, serta metode Multichannel Analysis of Surface Waves atau analisis gelombang permukaan multi-kanal (MASW).
“BMKG telah menerjunkan tim gabungan dari pusat dan UPT untuk melakukan survei gempabumi merusak, meliputi survei makroseismik, pengukuran mikrotremor dan MASW untuk mengetahui karakteristik serta respons tanah terhadap guncangan, monitoring gempa susulan, dan verifikasi dampak tsunami di lapangan,” papar Wijayanto.
Survei tersebut dilakukan untuk mengetahui karakteristik tanah dan respons wilayah terhadap guncangan gempa secara lebih terukur.
Hasil kajian akan menjadi bahan penting untuk pemetaan mikrozonasi pascagempa serta penyusunan strategi mitigasi bencana.
BMKG memprioritaskan wilayah dengan tingkat kerusakan sedang hingga berat untuk dibandingkan dengan kawasan yang mengalami dampak lebih kecil.
Warga Diminta Tetap Waspada
BMKG juga mengintensifkan edukasi kepada masyarakat terdampak agar memahami kondisi pascagempa dan tidak mudah panik.
Warga diminta menjauhi bangunan yang mengalami retak atau kerusakan karena masih berpotensi membahayakan saat gempa susulan terjadi.
Pemantauan aktivitas gempa susulan akan terus dilakukan dan hasil terbaru disampaikan secara berkala kepada pemerintah serta masyarakat.
Masyarakat dianjurkan memperoleh informasi hanya dari kanal resmi BMKG untuk menghindari informasi keliru selama masa pemulihan.***