Dari total 14 segmen megathrust yang mengelilingi wilayah Indonesia, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memberikan perhatian khusus pada tiga titik utama: segmen Mentawai-Siberut, Selat Sunda, dan Sumba. Ketiga zona ini terus diawasi secara intensif lantaran sudah lama tidak melepaskan akumulasi energi tektonik berskala besar.
Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto, menjelaskan bahwa seluruh segmen subduksi pada dasarnya menyimpan potensi gempa kuat. Namun, ketiga wilayah tersebut menunjukkan karakteristik penumpukan energi yang menonjol.
“Segmen Mentawai-Siberut sudah sangat lama tidak terjadi gempa besar. Begitu pula dengan segmen Selat Sunda yang mencakup wilayah Jawa bagian barat. Tiga segmen inilah yang terus kita monitoring secara ketat,” ungkap Wijayanto.
Memahami Fenomena Seismic Gap
Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Daryono, mengonfirmasi bahwa segmen Mentawai-Siberut dan Selat Sunda menjadi sorotan karena mengindikasi keberadaan seismic gap.
Berdasarkan publikasi BMKG, seismic gap merujuk pada wilayah dengan potensi seismik tinggi yang secara historis seharusnya telah melepaskan energi gempa besar, namun data katalog menunjukkan pelepasan energi tersebut belum terjadi dalam jangka waktu lama.
Meski demikian, Daryono menegaskan agar masyarakat dapat membedakan secara jernih antara potensi teknis dan waktu terjadinya bencana.
“Secara ilmiah harus dibedakan antara ‘memiliki kapasitas menghasilkan gempa besar’ dan ‘akan segera mengalami gempa besar.’ Potensi megathrust adalah analisis jangka panjang, bukan prediksi bahwa gempa akan terjadi dalam waktu dekat,” tegas Daryono.
Metode Analisis sains dalam Pemetaan Risiko
Untuk menghitung daya rusak dan kapasitas magnitudo maksimum ($M_{max}$) di suatu zona megathrust, para ahli kebumian mengombinasikan pelbagai parameter ilmiah secara terpadu:
-
Geometri dan Luas Bidang Kontak: Memetakan luas area pergeseran (rupture). Semakin luas bidangnya, semakin besar magnitudo gempa yang dihasilkan.
-
Laju Konvergensi Lempeng: Mengukur kecepatan pergerakan dua lempeng yang saling mendekat untuk menghitung akumulasi regangan.
-
Tingkat Penguncian (Coupling) & Slip Deficit: Menilai seberapa kuat bidang kontak terkunci serta menghitung selisih pergerakan lempeng yang belum terlepaskan.
-
Paleosismologi & Sejarah Gempa: Mempelajari jejak gempa dan tsunami purba guna memahami siklus perulangan rupture.
-
Geodesi & Data GNSS/GPS: Memantau deformasi kerak bumi dan akumulasi regangan tanah secara real-time.
Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia terus mengalami pembaruan periodik dengan menyesuaikan pemodelan prediksi gerakan tanah (Ground Motion Prediction Equations), segmentasi, hingga data geologi paling mutakhir.
Daryono meluruskan persepsi publik terkait bertambahnya jumlah segmen dalam peta kebencanaan nasional.
“Bertambahnya jumlah segmen pada peta bukan berarti bumi tiba-tiba memiliki lebih banyak jalur megathrust, melainkan menunjukkan bahwa pemetaan sumber gempa di Indonesia kini jauh lebih detail, presisi, dan teruji secara ilmiah,” pungkasnya.