JAKARTA — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengawali perdagangan Jumat (4/9/2026) dengan penguatan.
IHSG naik 0,41 persen atau 27,58 poin ke level 6.695,47 pada pukul 09.01 WIB.
Penguatan indeks terutama ditopang kenaikan sejumlah saham berkapitalisasi besar seperti TPIA, DSSA, TLKM, dan BBRI.
Pada awal sesi, IHSG sempat berada di posisi terendah 6.690,32 sebelum bergerak naik hingga 6.704,12.
Data Bursa Efek Indonesia mencatat 319 saham menguat, sedangkan 117 saham melemah dan 234 saham lainnya stagnan.
Sementara itu, total kapitalisasi pasar saham Indonesia mencapai Rp11.713,64 triliun pada awal perdagangan.
IHSG Masih Berpeluang Naik
Kinerja IHSG pada Jumat melanjutkan tren positif setelah indeks ditutup menguat 1,09 persen ke level 6.667,89 pada Kamis (3/9/2026).
Analis Pasar Modal dari Tim Phintraco Sekuritas memperkirakan ruang penguatan IHSG masih terbuka, meski pergerakannya berpotensi terbatas.
“Secara teknikal, IHSG berpeluang menguji level 6.705-6.760 pada perdagangan hari ini,” kata Analis Pasar Modal dari Tim Phintraco Sekuritas, Jumat (4/9/2026).
Phintraco menilai membaiknya bursa global dan pasar obligasi dunia menjadi faktor yang memberikan sentimen positif bagi pasar saham domestik.
Bursa Global Jadi Katalis
Wall Street mengakhiri perdagangan Kamis dengan penguatan cukup kuat di tengah penurunan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat.
Kenaikan saham perusahaan perangkat lunak turut memperkuat sentimen positif di bursa saham Amerika Serikat.
Pasar saham kawasan Asia-Pasifik juga mayoritas bergerak menguat setelah sebelumnya menghadapi tekanan perdagangan.
Investor kini menunggu rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat serta petunjuk terbaru mengenai arah kebijakan suku bunga Federal Reserve.
Risiko Profit Taking Mengintai
Meski peluang penguatan masih terbuka, investor perlu mencermati potensi aksi ambil untung menjelang penutupan perdagangan pekan ini.
“Namun perlu diwaspadai potensi profit taking menjelang akhir pekan di tengah ketidakpastian global yang relatif tinggi,” ucap Tim Phintraco.
Dari dalam negeri, perhatian pelaku pasar tertuju pada kebijakan pemerintah terkait efisiensi anggaran program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyebut anggaran MBG 2027 yang dipatok Rp240 triliun masih berpeluang ditekan hingga di bawah Rp200 triliun.
Efisiensi tersebut dinilai dapat ditempuh melalui penggunaan teknologi dan perbaikan tata kelola program MBG.
Badan Gizi Nasional juga membuka ruang untuk menghitung kembali kebutuhan anggaran MBG pada tahun mendatang.
“BGN akan kembali menghitung kebutuhan anggaran 2027 dengan mempertimbangkan hasil pembenahan data penerima manfaat dan pelaksanaan program di lapangan,” ujar Tim Phintraco.
Pengurangan anggaran MBG berpotensi memberikan ruang fiskal untuk membiayai program lain yang dinilai mampu menopang pertumbuhan ekonomi.
Efisiensi belanja juga berpotensi membantu pemerintah menjaga defisit anggaran agar tetap terkendali.
Investor Pantau Kebijakan OPEC+
Selain faktor domestik, pasar turut mencermati agenda pertemuan negara-negara anggota OPEC+ terkait kebijakan produksi minyak untuk Oktober.
OPEC+ sebelumnya telah meningkatkan kuota produksi minyak sebesar 188 ribu barel per hari mulai September 2026.
Rusia menyatakan aliansi produsen minyak tersebut belum memiliki rencana untuk memangkas produksi karena permintaan energi global mulai pulih.
“Rusia menyatakan bahwa aliansi ini tidak berencana mengurangi produksi karena pemulihan permintaan global.”
“Jika OPEC+ kembali menaikkan produksi, diharapkan dapat menahan kenaikan harga minyak lebih lanjut,” kata Tim Phintraco menutup analisisnya.***