Bos tim Mercedes, Toto Wolff, mengakui bahwa timnya bisa saja berakhir “tampak konyol” apabila pembalap mudanya, Kimi Antonelli, gagal keluar dari jebakan kerikil (gravel trap) di Sirkuit Monza usai manuver pengambilalihan yang berisiko terhadap rekan setimnya sendiri, George Russell.
Antonelli memulai balapan GP Italia dari posisi ke-19. Namun, berkat kibaran bendera merah (red flag) di awal balapan yang merapatkan kembali jarak antar-mobil, pembalap muda tersebut melesat pesat hingga berhasil menempel ketat di belakang Russell pada lap ke-16.
Usai melakukan pit stop di bawah periode Virtual Safety Car untuk mengganti ban medium baru, Antonelli kembali mengejar Russell menjelang lap-lap akhir. Namun, petaka nyaris terjadi saat ia mencoba menyalip di tikungan chicane Rettifilo—mobilnya tergelincir di atas pecahan aspal dan meluncur ke area kerikil.
Kendati pada akhirnya Antonelli sukses mengamankan kemenangan balapan yang dramatis, Wolff tidak dapat menyembunyikan kekhawatirannya atas insiden konyol yang berpotensi merusak hasil akhir tim.
“Kita Bisa Kelihatan Seperti Orang Bodoh”
Membahas detik-detik menegangkan di penghujung balapan tersebut, Toto Wolff memberikan evaluasi tajam mengenai manuver berbahaya kedua pembalapnya.
“Insiden terakhir itu sangat disayangkan. George berusaha agar tidak memotong tikungan, dan Kimi, yang berada di area marbles (serpihan ban), meluncur lurus. Itu bisa saja berakhir menjadi bencana bagi hasil balapan kita, dan kita akan kelihatan seperti orang bodoh,” tegas Wolff.
Meski demikian, Wolff menilai kejadian ini sebagai proses pendewasaan bagi Antonelli sekaligus bukti kebebasan bertarung di dalam tim.
“Kami akan membahas situasi itu sebagai bahan pembelajaran tentang bagaimana cara berbalap di masa depan. Namun di sisi lain, saya pikir kejadian ini menunjukkan semangat bertarung yang nyata di dalam tim, membiarkan mereka saling berduel secara terbuka,” lanjutnya.
Dua Pembalap Utama Tanpa Team Orders
Mercedes sejak lama mempertahankan filosofi tidak memiliki hirarki pembalap nomor satu dan nomor dua, melainkan menganggap keduanya sebagai pembalap utama yang bebas bersaing di lintasan.
Namun, belajar dari rivalitas sengit masa lalu antara Lewis Hamilton dan Nico Rosberg, Wolff kini jauh lebih berhati-hati. Duel sengit antar-rekan setim di Monza—yang sempat dimanfaatkan Max Verstappen untuk memangkas jarak—benar-benar menguji batas kesabaran sang Team Principal.
Wolff bahkan mengaku sudah siap mengintervensi melalui radio tim jika duel tersebut melewati batas keadilan olahraga (sporting fairness).
“Ada momen ketika kami berpikir duel ini memang bersih, tetapi sudah terlalu dekat dan berisiko. Jari saya sebenarnya sudah berada di tombol radio untuk Marcus, Bono, Kimi, dan George—tetapi pada akhirnya saya memilih untuk tidak menekan tombol intervensi tersebut,” pungkas Wolff.