Pembalap muda Mercedes, Kimi Antonelli, merespons kemenangan spektakulernya di Grand Prix Italia dengan pernyataan yang sangat emosional sekaligus menebar ancaman bagi rival-rivalnya. Sukses mencatatkan salah satu aksi comeback paling luar biasa dalam sejarah Formula 1, pembalap berusia 20 tahun itu menegaskan bahwa performa terbaiknya di lintasan balap sejatinya “belum keluar sepenuhnya.”
Start dari urutan ke-19 akibat kualifikasi yang buruk, Antonelli secara fantastis menyodok hingga meraih podium utama. Capaian ini tercatat sebagai kemenangan F1 dari posisi start terjauh kedua dalam sejarah—hanya kalah dari rekor legendaris John Watson yang memenangkan balapan dari posisi start ke-22 di GP AS Barat 1983.
Melesat 17 Posisi Hanya dalam 16 Lap
Performa Antonelli di Monza terbilang luar biasa. Hanya dalam kurun waktu 16 lap awal, ia berhasil memangkas jarak dan naik hingga posisi kedua. Bahkan setelah posisinya sempat melorot usai melakukan pit stop di bawah periode Virtual Safety Car, Antonelli kembali melancarkan aksi manuver agresif hingga akhirnya merebut pimpinan balapan.
Kemenangan ini sekaligus memastikan dominasi Mercedes mengamankan posisi finish 1-2 (one-two finish) untuk pertama kalinya sejak seri kedua musim ini di China.
“Maksud saya, performa terbaik saya sejujurnya belum keluar sepenuhnya. Namun, ini jelas salah satu balapan terbaik yang pernah saya jalani dalam karier saya, dan balapan ini akan saya kenang selamanya,” ujar Antonelli meluapkan kegembiraannya.
Melejit di Klasemen, Enggan Jemawa Incar Gelar Juara
Kemenangan dramatis ini membuat posisi Antonelli di puncak klasemen pembalap semakin kokoh. Sempat terancam mengalami pemangkasan poin, pembalap muda Italia itu kini bertolak ke seri Madrid dengan keunggulan 66 poin atas rekan setimnya, George Russell. Sementara itu, Lewis Hamilton semakin tertinggal 76 poin usai akhir pekan yang kelam bagi Ferrari.
Kendati publik menilai trophy juara dunia musim ini sudah berada di depan mata, Antonelli memilih untuk tetap membumi dan menolak berpuas diri terlalu dini.
“Saya tidak ingin terlalu fokus memikirkan klasemen karena musim ini menunjukkan betapa cepatnya konstelasi bisa berubah. Dari sisi saya, fokusnya adalah menghadapi balapan satu per satu, memaksimalkan setiap peluang, dan melihat apa yang terjadi di akhir musim nanti. Tidak ada gunanya menggebu-gebu memikirkan gelar juara sekarang,” tegasnya.
Mentalitas pantang menyerah sang pembalap sangat terlihat di penghujung balapan. Antonelli mempertaruhkan segalanya saat merangsek menyalip Russell, hingga mobilnya sempat tergelincir ke area kerikil (gravel trap)—sebuah insiden yang sempat membuat Bos Mercedes, Toto Wolff, ketar-ketir.
“Saya tidak memikirkan hal lain selain berusaha menang, terutama saat melihat ada celah kesempatan. Saya menekan mobil secara maksimal, memanfaatkan sisa baterai secara bijak, dan akhirnya strategi itu berhasil. Tentu saja, performa mobil Mercedes yang menjadi yang terbaik akhir pekan ini sangat membantu proses pemulihan posisi saya,” pungkas Antonelli.