Seorang warga negara Indonesia (WNI) berinisial Deden (40) secara terbuka melayangkan surat permohonan bantuan emergency kepada Presiden RI, Kementerian Luar Negeri (Kemenlu), dan KBRI di Moskow pada Selasa (15/9/2026). Deden memohon penyelamatan dan pemulangan ke Tanah Air setelah terjebak menjadi tentara aktif Angkatan Darat Rusia dalam konflik bersenjata melawan Ukraina.
Berdasarkan pengakuannya, Deden menjadi korban penipuan sindikat agen rekrutmen pekerja migran. Awalnya, ia diiming-imingi pekerjaan sebagai staf sipil di kementerian atau perusahaan swasta Rusia, namun setibanya di lokasi justru dipaksa menandatangani dokumen kontrak militer.
Saat ini, Deden tercatat telah bertugas selama hampir empat bulan di divisi logistik Angkatan Darat Rusia—sebuah posisi yang membuatnya relatif aman karena tidak diterjunkan langsung ke garis depan pertempuran (frontline).
Puluhan WNI Dikirim ke Garda Terdepan, Banyak Terpukul dan Gugur
Dalam surat resminya, Deden mengungkap fakta mengejutkan bahwa terdapat puluhan WNI lain yang bernasib serupa. Sayangnya, mayoritas dari mereka ditempatkan di garda terdepan pertempuran dengan bekal pelatihan tempur yang sangat minim.
“Kini saya sudah lost contact dengan mereka semua. Berdasarkan pengamatan selama bertugas, sudah banyak WNI yang meninggal dunia, hilang, atau luka berat dalam kurun waktu satu hingga dua tahun terakhir tanpa pernah terkespos publik,” ungkap Deden pilu.
Deden menegaskan bahwa praktik rekrutmen militer ilegal ini jelas melanggar hukum Indonesia, sebab pengiriman pasukan ke negara asing memerlukan izin khusus dari Kepala Negara. Ia khawatir jika tak segera dievakuasi, dirinya akan mendapat paspor Rusia secara otomatis setelah enam bulan bertugas—hal yang berpotensi menghapus status kewarganegaraannya.
“Saya tidak mau menjadi warga negara Rusia, saya hanya ingin tetap menjadi WNI,” tegasnya.
Desak Diplomasi Tingkat Tinggi Pemerintah RI ke Kremlin
Menghadapi situasi krusial ini, Deden mendorong Pemerintah Indonesia untuk menempuh jalur diplomasi langsung dengan Presiden Vladimir Putin dan pemerintah Kremlin guna membebaskan seluruh WNI yang terjerat kontrak militer ilegal tersebut.
Ia merujuk pada keberhasilan beberapa negara di Afrika, seperti Afrika Selatan, yang berhasil menarik keluar warga negara mereka dari medan perang melalui negosiasi bilateral yang tegas.
Meskipun mengakui keramahan warga lokal yang sempat membantunya, Deden menegaskan bahwa niat utamanya datang ke Rusia semata-mata untuk mencari penghidupan sebagai pekerja migran, bukan menjadi serdadu perang. Ia berharap langkah diplomasi yang diambil pemerintah RI kelak dapat menyelesaikan masalah kemanusiaan ini tanpa merusak hubungan baik kedua negara.