JAKARTA — Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyiapkan empat strategi untuk menekan dampak kekeringan yang berpotensi berlangsung panjang di sejumlah wilayah Indonesia.
Pola kekeringan dalam satu dekade terakhir menunjukkan periode kering umumnya terjadi mulai Mei hingga Desember.
Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan menyebut puncak kekeringan dapat berbeda setiap tahun.
Pada 2018, misalnya, kondisi paling kering tercatat pada Juli, sedangkan puncaknya bergeser ke September pada 2023.
Perbedaan waktu tersebut membuat pemerintah perlu menyiapkan langkah antisipasi berdasarkan perkembangan cuaca dan distribusi hujan.
“Jadi ini perlu disikapi dengan bijak oleh semua warga negara karena ini juga bisa mengganggu produksi pertanian, menurunkan ketersedian air bersih, meningkatkan risiko kebakaran, hingga ancaman terhadap ketahanan pangan serta kesehatan masyarakat,” ujar Berton.
Strategi pertama BNPB diarahkan pada penguatan cadangan air melalui Operasi Modifikasi Cuaca atau OMC.
Selain OMC, pengisian embung, danau, waduk, serta berbagai tempat penampungan air akan dioptimalkan bersama kementerian dan lembaga terkait.
Langkah kedua menyasar penguatan kemampuan daerah dalam menyediakan infrastruktur air untuk menghadapi periode kekeringan.
Salah satu fasilitas yang didorong ialah sumur dalam untuk membantu memenuhi kebutuhan air di wilayah yang mengalami keterbatasan pasokan.
“Dan BNPB sudah melakukan beberapa pembangunan sumur dalam, ada yang kita lakukan di beberapa kabupaten dan provinsi,” paparnya.
Strategi ketiga disiapkan untuk jangka panjang dengan mendorong penghijauan kawasan hulu sungai ketika musim hujan tiba.
Penghijauan tersebut diharapkan membantu memperbaiki kemampuan tanah menyerap air dan menjaga ketersediaan cadangan air secara alami.
Sementara itu, strategi keempat berfokus pada pemerataan distribusi air bersih dan layanan sanitasi di wilayah terdampak.
BNPB ingin memastikan kebutuhan air masyarakat di tingkat kabupaten dan kota tetap terpenuhi meski kondisi kering berlangsung.
Di sisi lain, masyarakat diminta ikut menjaga keberlanjutan sumber air dengan menghindari penggunaan secara berlebihan.
Berton mengingatkan penggunaan air perlu diprioritaskan untuk kebutuhan utama, termasuk memasak dan menjaga kebersihan lingkungan.
Masyarakat juga diminta menutup keran ketika tidak digunakan serta memanfaatkan kembali air selama tidak tercemar bahan kimia berbahaya.
“Kita perlu dengan bijak menggunakan sumber mata air,” tutur dia.
Data pemantauan BNPB menunjukkan 10 kabupaten mencatat kejadian kekeringan tertinggi hingga saat ini.
Wilayah tersebut meliputi Bima, Bogor, Parigi Moutong, Subang, Bekasi, Bandung Barat, Pangandaran, Demak, Semarang, dan Pekalongan.
Peringatan dini BMKG Dasarian II September 2026 juga menunjukkan sejumlah wilayah berada dalam kategori Awas.
Sebaran kategori tersebut mencakup sebagian besar Jawa, Sumatra bagian selatan, Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah.
Wilayah Sulawesi Utara serta Sulawesi Selatan juga memiliki sejumlah kawasan yang masuk klasifikasi Awas.
Kondisi itu menjadi perhatian karena kekeringan dapat memengaruhi ketersediaan air, pertanian, kesehatan, hingga risiko kebakaran.
Karena itu, pengelolaan cadangan air dan distribusi yang merata menjadi bagian penting dalam menghadapi periode kering.***