JAKARTA – Kementerian Pekerjaan Umum (PU) mengerahkan 10 unit pompa air untuk menyelamatkan sekitar 300 hektare lahan pertanian yang terancam kekeringan di Desa Sindangsari, Kecamatan Kutawaluya, Kabupaten Karawang, Jawa Barat.
Langkah darurat tersebut dilakukan melalui Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citarum untuk memastikan pasokan air irigasi tetap tersedia, terutama karena lahan pertanian di wilayah tersebut sedang memasuki masa tanam.
Menteri PU Dody Hanggodo mengatakan penanganan kekeringan perlu dilakukan secara cepat dan terukur karena ketersediaan air menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga produktivitas pertanian.
“Di tengah dunia yang terus berubah dan penuh ketidakpastian, air menjadi fondasi yang sangat penting bagi pembangunan berkelanjutan. Karena itu, penanganan kekeringan harus dilakukan secara cepat, terukur, dan terpadu agar kebutuhan air masyarakat tetap terpenuhi dan produktivitas pertanian tetap terjaga,” kata Dody dalam keterangan resminya.
Untuk memasok air ke lahan pertanian, BBWS Citarum membangun dam parit di Saluran Pembuang (SP) Wadas. Rekayasa tersebut dilakukan untuk menaikkan muka air sehingga proses pemompaan dapat berlangsung lebih optimal.
Sebanyak 10 mesin pompa berkapasitas 5,5 HP kemudian dikerahkan. Masing-masing pompa memiliki kemampuan mengalirkan air dengan debit sekitar 10 hingga 18 liter per detik.
Air hasil pemompaan selanjutnya dialirkan melalui jaringan irigasi tanah sepanjang 1.387 meter menuju area persawahan yang membutuhkan pasokan air.
Bagi petani, intervensi tersebut menjadi penting karena kebutuhan air meningkat saat memasuki masa tanam. Ketua Kelompok Tani Sekar Mulya, Marzuki, mengatakan pemompaan yang dilakukan pemerintah membantu petani mempertahankan kegiatan pertanian di tengah kondisi kekeringan.
“Pasokan air dari pemompaan ini sangat membantu kami, terlebih saat ini lahan pertanian sedang memasuki masa tanam,” ujar Marzuki.
Saluran Irigasi Jatiluhur Dinormalisasi
Selain mengandalkan pemompaan, Kementerian PU juga melakukan penanganan pada jaringan irigasi untuk memperlancar distribusi air ke area pertanian.
Normalisasi dilakukan pada jaringan irigasi sekunder Daerah Irigasi (D.I.) Jatiluhur, khususnya Saluran Sekunder (SS) Sasak di Desa Kutamakmur.
Pekerjaan tersebut dimulai pada 11 September 2026 dengan mengerahkan alat berat ekskavator. Petugas melakukan pengerukan dan pembersihan saluran dari berbagai material yang menghambat aliran, mulai dari endapan lumpur, sampah, hingga tumbuhan liar seperti eceng gondok dan gulma.
Normalisasi ditargetkan mencakup saluran sepanjang 3.200 meter. Setelah pembersihan selesai, jaringan tersebut diharapkan dapat kembali mengalirkan air secara lebih lancar untuk mengairi sekitar 244 hektare sawah.
Lahan pertanian tersebut tersebar di empat kecamatan, yakni Rengasdengklok, Kutawaluya, Pedes, dan Cilebar.
Kementerian PU juga menyiapkan penanganan lanjutan untuk memperkuat jaringan irigasi sekaligus memperluas jangkauan pemompaan apabila diperlukan.
Pemerintah Buka Posko Pengaduan Kekeringan
Untuk mengantisipasi meluasnya dampak kekeringan di wilayah kerja BBWS Citarum, pemerintah turut menyiapkan posko siaga bencana dan layanan pengaduan bagi masyarakat.
Kelompok tani maupun warga yang membutuhkan bantuan terkait pasokan air atau penanganan jaringan irigasi dapat menghubungi hotline BBWS Citarum di 0821-2117-5600.
Pengaduan juga dapat disampaikan melalui Posko Bencana Kekeringan di nomor 0852-1800-5600.
Selain itu, Kementerian PU menyediakan layanan pelaporan melalui Call Center 158 ekstensi 4 dan layanan WhatsApp di nomor 0815-1000-0158.
Langkah tersebut disiapkan sebagai bagian dari respons terhadap kondisi kekeringan sekaligus memastikan kebutuhan air untuk sektor pertanian dapat ditangani secara cepat di wilayah yang terdampak.