Badan Gizi Nasional (BGN) berkolaborasi dengan Japan International Cooperation Agency (JICA) meluncurkan inisiatif MBG-JICA Pilot. Kerja sama ini mengadaptasi pendekatan Shokuiku—konsep pendidikan pangan dan gizi asal Jepang—guna memperkaya nilai dan pengalaman para siswa dalam pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Di Negeri Sakura, Shokuiku telah lama diterapkan sebagai kurikulum pembentukan karakter pangan. Konsep ini tidak sekadar membekali siswa dengan teori gizi, tetapi juga memberikan pengalaman praktis untuk mengenal asal-usul makanan, menghargai proses penyajian, hingga membangun pola makan sehat sejak dini.
Deputi Sistem dan Tata Kelola BGN, Prima Yosephine Berliana Tumiur Hutapea, menjelaskan bahwa pembelajaran dari Jepang ini menjadi referensi krusial agar piring makan di sekolah memiliki dampak edukatif yang lebih luas.
“Melalui kerja sama ini, kami ingin memastikan makanan tidak hanya diterima dan dikonsumsi begitu saja. Makanan harus menjadi bagian dari proses belajar anak mengenai gizi, pangan, serta penghargaan terhadap pihak-pihak yang menyediakannya,” ujar Prima, Rabu (23/9/2026).
Fokus Pengurangan Sampah Makanan hingga Keterlibatan Siswa
Dalam skema MBG-JICA Pilot, terdapat sejumlah fokus utama yang diuji cobakan, antara lain penekanan jumlah sampah makanan (food waste), efisiensi alur distribusi dan penyajian, hingga peningkatan partisipasi aktif siswa selama jam makan sekolah.
Inisiatif ini dijalankan melalui dua komponen terpadu:
-
Shokkan Trial (Tingkat SPPG): Berfokus pada optimalisasi dan standar kualitas di tingkat penyedia layanan makanan.
-
Shokuiku Activities (Tingkat Sekolah): Berfokus pada ruang interaksi siswa untuk memahami kandungan gizi dan nilai dari makanan yang mereka santap.
Menurut Prima, penggabungan kedua lini ini menciptakan ekosistem yang utuh, menghubungkan kualitas dapur penyedia dengan dampak edukasi di meja makan siswa.
“Kami ingin melihat benang merah antara proses di tingkat dapur penyedia (SPPG) dengan pengalaman anak saat menyantap makanannya. Dari sana, kita bisa memetakan aspek mana yang perlu ditingkatkan, baik dari sisi layanan maupun efektivitas edukasinya,” jelasnya.
Membangun Empati dan Kesadaran Pangan Sejak Dini
Penerapan Shokuiku juga dirancang untuk menumbuhkan rasa empati dan kepedulian sosial para murid. Siswa diajak untuk memahami rantai panjang penyediaan pangan—mulai dari petani, juru masak, hingga petugas distribusi yang bekerja di balik piring makanan mereka.
Melalui kemitraan strategis bersama JICA ini, BGN berkomitmen untuk terus menyempurnakan tata kelola Program MBG agar relevan dan efektif diterapkan dalam konteks Indonesia.
“Harapannya, ilmu dan praktik baik dari Jepang ini dapat terus memperkuat MBG. Kita ingin melahirkan generasi muda yang tidak hanya sehat secara fisik, tetapi juga memiliki pemahaman dan kesadaran yang tinggi terhadap gizi serta pangan,” pungkas Prima.