JAKARTA – Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) pemerintah diproyeksikan memberi dampak besar terhadap pencegahan penyakit stroke dan kardiovaskular dalam satu dekade mendatang.
Pemerintah memperkirakan intervensi melalui CKG berpotensi mencegah sekitar satu dari empat kasus stroke dan penyakit kardiovaskular pada 2035.
Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono mengatakan manfaat program tersebut membutuhkan waktu untuk terlihat karena pencegahan dilakukan sejak faktor risiko ditemukan.
“Jadi, manfaatnya (CKG) baru terasa di tahun 2035, tapi sudah kita mulai kerjakan dari sekarang. Jadi sampai 10 tahun nanti kita benar-benar akan merasakan manfaatnya,” ujar Dante.
Menurut Dante, proyeksi tersebut mengacu pada data pemeriksaan CKG yang menunjukkan tingginya temuan hipertensi dan gangguan gula darah.
Kedua kondisi tersebut menjadi faktor risiko penting yang berkaitan dengan penyakit stroke serta gangguan jantung dan pembuluh darah.
Data Kementerian Kesehatan menunjukkan 6,81 juta peserta CKG pada tahun lalu teridentifikasi mengalami tekanan darah tinggi.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 2,41 juta orang kembali menjalani pemeriksaan melalui program CKG pada 2026.
Hasil pemantauan menunjukkan 1,13 juta peserta atau sekitar 46,9 persen telah memiliki tekanan darah yang terkendali.
Pada pemeriksaan gula darah, sebanyak 1,02 juta peserta CKG tahun sebelumnya diketahui mengalami diabetes melitus.
Sebanyak 340.117 orang dari kelompok tersebut kembali melakukan pemeriksaan kesehatan pada tahun ini.
Dari peserta yang menjalani pemeriksaan ulang itu, sebanyak 235.895 orang atau 69,4 persen tercatat memiliki kadar gula darah yang terkendali.
Temuan tersebut menunjukkan pemeriksaan berkelanjutan dapat membantu masyarakat mengetahui kondisi kesehatan sekaligus mengendalikan faktor risiko lebih cepat.
“Kalau kita bisa melakukan tata laksana lebih awal dari hipertensi, diabetes, dan kolesterol ini, maka kita bisa menjaga masyarakat masuk ke dalam sakit jantung dan pembuluh darah, seperti stroke dan sebagainya,” papar dia.
Dante menilai pengendalian hipertensi, diabetes, dan kolesterol sejak dini berpotensi mengurangi risiko penyakit kronis yang dapat berujung pada kematian.
Upaya pencegahan tersebut juga diharapkan berkontribusi terhadap peningkatan angka harapan hidup masyarakat Indonesia dalam jangka panjang.
Pemerintah menargetkan angka harapan hidup Indonesia dapat meningkat menjadi sekitar 76-78 tahun melalui penguatan upaya promotif dan preventif.
Angka tersebut berada di atas rata-rata angka harapan hidup saat ini yang disebut masih berkisar 71-72 tahun.
“Dan pada saat itu (2035) ada bonus demografi, di mana penduduk Indonesia akan mendapatkan kualitas kesehatan yang lebih terjamin,” tambahnya.
CKG merupakan program pemerintah pada era Presiden Prabowo Subianto yang dirancang untuk menemukan gangguan kesehatan lebih awal.
Program tersebut juga diarahkan agar masyarakat memperoleh penanganan sedini mungkin sebelum penyakit berkembang menjadi lebih berat.
Hingga September 2026, sekitar 99,1 juta orang telah mengikuti CKG sejak program tersebut dimulai pada Februari 2025.
Kementerian Kesehatan kini memusatkan penanganan pada tiga faktor risiko utama, yakni hipertensi, diabetes, dan dislipidemia.
Ketiga risiko tersebut dipilih berdasarkan berbagai masalah kesehatan yang paling banyak ditemukan pada peserta CKG sepanjang 2026.
Pemeriksaan dan penanganan lebih awal diharapkan mampu menekan angka kesakitan serta kematian akibat penyakit tidak menular.
Pendekatan preventif juga berpotensi mengurangi beban biaya kesehatan karena penyakit dapat ditangani sebelum berkembang ke tahap yang lebih berat.
Dengan demikian, CKG tidak hanya diarahkan untuk menemukan penyakit, tetapi juga membangun kebiasaan pemeriksaan kesehatan secara rutin.
Program tersebut menjadi bagian dari strategi pemerintah memperkuat pencegahan penyakit sekaligus menjaga kualitas kesehatan masyarakat menuju 2035.***