NTB— Sebanyak 40 dari 75 rumah adat di Desa Adat Sade, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), telah dibangun kembali dan dipasangi atap setelah kebakaran melanda kawasan permukiman tradisional Suku Sasak tersebut. Pemulihan kini berlanjut pada fasilitas umum, sarana penunjang aktivitas warga, serta upaya menjaga keberlangsungan tradisi masyarakat setempat.
Berdasarkan perkembangan hingga Jumat (9/10/2026), pembangunan kembali rumah adat menjadi bagian dari upaya memulihkan kehidupan masyarakat yang terdampak bencana. Pengerjaan juga dilakukan terhadap sejumlah fasilitas umum, meliputi masjid, museum adat, bale bengong, dan toilet umum.
Pemulihan Desa Adat Sade tidak hanya berkaitan dengan perbaikan bangunan yang rusak. Aktivitas ekonomi warga dan pelestarian budaya Sasak turut menjadi perhatian agar masyarakat dapat kembali menjalankan kegiatan sehari-hari di tengah proses rekonstruksi.
Perkembangan tersebut ditinjau langsung oleh sejumlah pejabat pemerintah pusat dan daerah saat mengunjungi Desa Adat Sade pada Sabtu (10/10/2026). Peninjauan dilakukan untuk melihat kondisi kawasan serta perkembangan penanganan pascakebakaran.
Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana hadir bersama Sekretaris Kementerian Pariwisata Bayu Aji, Plt. Deputi Bidang Pengembangan Penyelenggaraan Kegiatan (Events) Kementerian Pariwisata Hafiz Agung Rifai, Asisten Deputi Pengembangan Amenitas dan Aksesibilitas Wilayah II Dwi Marhen Yono, serta Direktur Politeknik Pariwisata Lombok Ali Muhtasom.
Dari pemerintah pusat, turut hadir Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Susiwijono bersama Asisten Deputi Pengembangan Pariwisata Herfan Brilianto Mursabdo. Sementara itu, jajaran pemerintah daerah dipimpin Gubernur NTB Lalu Muhammad Iqbal dan Wakil Gubernur NTB Indah Dhamayanti Putri. Gubernur Nusa Tenggara Timur Emanuel Melkiades Laka Lena juga turut hadir bersama jajaran pemerintah provinsi dan Kabupaten Lombok Tengah.
Pemulihan ekonomi dan tradisi warga
Di tengah pembangunan kembali rumah dan fasilitas umum, pemulihan mata pencaharian masyarakat menjadi bagian penting dari penanganan dampak kebakaran. Salah satu langkah yang dilakukan ialah menyediakan peralatan kerja bagi perajin lokal melalui penyerahan alat tenun.
Upaya tersebut diarahkan untuk mendukung keberlanjutan kegiatan menenun yang menjadi bagian dari tradisi masyarakat Sasak. Dengan demikian, proses pemulihan tidak hanya berfokus pada bangunan fisik, tetapi juga pada aktivitas produktif warga yang berkaitan erat dengan kehidupan sosial dan budaya setempat.
Keberadaan Desa Adat Sade sebagai kawasan wisata berbasis budaya membuat pemulihan permukiman dan keberlangsungan tradisi masyarakat saling berkaitan. Aktivitas ekonomi warga menjadi salah satu unsur yang mendukung kehidupan kawasan, selain keberadaan rumah adat dan fasilitas yang digunakan untuk kegiatan masyarakat maupun kunjungan wisatawan.
Direktur Utama PT Jasaraharja Putera Abdul Haris, yang turut mengikuti peninjauan, menilai pemulihan kawasan terdampak bencana perlu memperhatikan kondisi sosial dan ekonomi masyarakat, selain pembangunan kembali sarana yang rusak.
“Bagi kami, pemulihan tidak hanya berarti membangun kembali fasilitas yang terdampak, tetapi juga mendukung keberlangsungan aktivitas ekonomi dan pelestarian budaya masyarakat,” ujar Abdul Haris.
Dalam kunjungan tersebut, Abdul Haris didampingi Direktur Pemasaran Imam Hendrawan, Branch Manager Mataram Dian Syaiful, serta Secretariat & PR Dept Head Adindha Karina Dewi.
Abdul Haris mengatakan, keterlibatan pemerintah, pihak swasta, dan masyarakat diperlukan untuk mendukung proses pemulihan yang berkelanjutan. Kerja sama tersebut diharapkan dapat membantu warga kembali menjalankan aktivitas sekaligus mempertahankan warisan budaya yang menjadi bagian dari identitas Desa Adat Sade.
“Proses pemulihan yang berkelanjutan memerlukan kerja sama antara perusahaan, pemerintah, dan masyarakat. Upaya bersama ini diharapkan membantu warga Desa Adat Sade bangkit dan terus merawat warisan budaya yang menjadi bagian dari kekayaan pariwisata Indonesia,” katanya.
Perhatian pada keselamatan kawasan
Selain rekonstruksi rumah adat dan fasilitas umum, pemulihan Desa Adat Sade juga mencakup penyediaan infrastruktur pendukung dan upaya mitigasi keselamatan. Langkah tersebut menjadi bagian dari penanganan kawasan agar aktivitas masyarakat dapat kembali berjalan dengan memperhatikan aspek keamanan.
Pengalaman kebakaran di kawasan permukiman tradisional turut menunjukkan pentingnya memperhatikan risiko bencana dalam pengelolaan destinasi wisata berbasis adat. Penanganan tidak berhenti setelah bangunan selesai diperbaiki, tetapi juga perlu mempertimbangkan kesiapan fasilitas dan langkah pencegahan terhadap risiko yang dapat mengganggu kehidupan masyarakat.
Di sisi lain, karakter arsitektur rumah adat dan tradisi masyarakat perlu tetap diperhatikan dalam proses pembangunan kembali. Pemulihan kawasan ditujukan untuk mengembalikan fungsi permukiman sekaligus mempertahankan identitas budaya yang menjadi bagian dari kehidupan warga Sade.
Dengan 40 dari 75 rumah terdampak telah kembali berdiri dan fasilitas umum masih dalam pengerjaan, proses pemulihan Desa Adat Sade terus berlangsung. Keberhasilan upaya tersebut tidak hanya ditentukan oleh penyelesaian pembangunan fisik, tetapi juga oleh pulihnya aktivitas ekonomi warga dan terjaganya tradisi masyarakat Sasak.
Catatan penyuntingan: Naskah difokuskan pada perkembangan pemulihan 40 rumah adat, keberlanjutan ekonomi warga, dan pelestarian budaya. Informasi mengenai perusahaan ditempatkan sebagai bagian pendukung, bukan sebagai inti berita, agar tidak terkesan sebagai materi promosi atau branding.
Ada satu hal yang perlu diperiksa sebelum tayang: naskah sumber menyebut dampak cuaca buruk dan kebakaran, tetapi tidak menguraikan kejadian cuaca buruk secara spesifik. Karena itu, berita di atas berfokus pada kebakaran sebagai peristiwa yang dijelaskan dalam materi. Tanggal, jumlah rumah terdampak, dan perkembangan pembangunan juga sebaiknya dikonfirmasi kembali kepada sumber lapangan.