WAMENA – Anggota DPD RI Arianto Kogoya meminta pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Papua Pegunungan kembali diaktifkan agar kebutuhan nutrisi pelajar terpenuhi secara optimal.
Dorongan tersebut disampaikan Arianto saat melakukan kunjungan kerja ke SMP Negeri 1 Wamena, Kabupaten Jayawijaya, pada Jumat (23/10/2026).
“Program MBG sangat baik sehingga perlu kembali didorong dan diaktifkan untuk membantu pemenuhan gizi adik-adik di satuan pendidikan wilayah Papua Pegunungan,” katanya dalam keterangan tertulis di Wamena dikutip dari Antara.
MBG Dinilai Penting bagi Pelajar Papua Pegunungan
Arianto menilai MBG sebagai program unggulan Presiden dan Wakil Presiden yang perlu menjangkau seluruh wilayah Indonesia, termasuk kawasan pegunungan di Tanah Papua.
Ia menyatakan terus mendorong Badan Gizi Nasional (BGN) Pusat agar layanan MBG dapat dibuka kembali di berbagai daerah Papua Pegunungan.
“Sesuai tugas pokok dan fungsi yang kami laksanakan di pusat, program MBG di wilayah Papua Pegunungan terus didorong melalui Badan Gizi Nasional (BGN) Pusat supaya semua daerah harus dibuka, karena kalau masyarakat Papua Pegunungan tidak peroleh manfaat dari MBG sangat rugi, karena negara telah menggelontorkan dana yang besar untuk program ini,” ujarnya.
Menurut Arianto, keberlanjutan program tersebut penting untuk memastikan anggaran negara memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, terutama anak-anak yang membutuhkan dukungan pemenuhan gizi.
Wilayah 3T Perlu Mendapat Perhatian
Arianto menegaskan Papua Pegunungan termasuk wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) yang membutuhkan perhatian dalam pemerataan akses terhadap program pemenuhan gizi.
“Papua Pegunungan masuk dalam kategori 3T sehingga program MBG ini sangat bermanfaat bagi masyarakat khususnya generasi muda atau pelajar yang masih menuntut pendidikan mulai PAUD-SMA/SMK,” katanya.
Ia menilai jangkauan MBG bagi peserta didik dari tingkat pendidikan anak usia dini hingga SMA/SMK menjadi salah satu langkah penting untuk mendukung tumbuh kembang generasi muda.
Koordinasi dengan Delapan Pemerintah Kabupaten
Untuk mengaktifkan kembali program tersebut, Arianto menyebut koordinasi terus dilakukan bersama koordinator BGN Papua Pegunungan dan para kepala daerah di delapan kabupaten.
“Kami harap program MBG ini harus berjalan secara maksimal di delapan kabupaten Papua Pegunungan untuk membantu pemenuhan gizi anak-anak, adik-adik kita dalam masa pertumbuhan di bangku pendidikan,” ujarnya.
Koordinasi tersebut diharapkan dapat mendorong pemerataan pelaksanaan MBG sehingga manfaatnya dapat dirasakan pelajar di seluruh wilayah Papua Pegunungan.
Layanan MBG Jayawijaya Terhenti Sejak September
Persoalan paling mendesak berada di Kabupaten Jayawijaya karena program MBG dilaporkan tidak beroperasi sejak 14 September 2026 hingga berita ini disampaikan.
Penghentian layanan tersebut berdampak pada sekitar 13.000 penerima manfaat yang sebelumnya memperoleh dukungan makanan bergizi.
Selain pelajar dan penerima manfaat lainnya, kondisi itu turut memengaruhi 235 relawan yang bekerja di lima Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Arianto berharap operasional MBG segera dipulihkan agar layanan pemenuhan gizi kembali menjangkau anak-anak sekolah sekaligus mendukung keberlangsungan aktivitas para relawan.***