JAKARTA – Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono menyampaikan respons positif terhadap uji coba sistem prasmanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG). Metode penyajian ini memungkinkan siswa menambah makanan jika masih merasa kurang, sekaligus menunjukkan hasil yang baik dari sisi kebersihan dan minimnya sisa makanan.
Sudaryono mengatakan, antusiasme siswa menjadi salah satu hal yang terlihat selama uji coba. Selain dapat mengambil tambahan makanan yang tersedia, tingkat makanan yang habis juga dinilai baik sehingga sisa makanan atau food waste relatif sedikit.
“Kami sudah mencoba uji coba prasmanan tadi dan responsnya sangat positif. Anak-anak yang merasa kurang masih bisa menambah makanan. Tingkat kebersihan dan tingkat makanan yang habis juga sangat bagus sehingga sisa makanan atau food waste sangat sedikit,” kata Sudaryono, dikutip dari akun media sosial pribadinya, @sudaru_sudaryono.
Dalam penerapannya, setiap siswa terlebih dahulu memperoleh porsi makanan sesuai takaran gizi yang telah ditentukan. Setelah pembagian selesai, makanan cadangan yang masih tersedia dapat diberikan kepada siswa yang membutuhkan tambahan.
Sudaryono menjelaskan, kebutuhan makan setiap anak dapat berbeda. Dalam satu kelas, misalnya, terdapat siswa dengan ukuran tubuh yang beragam sehingga kebutuhan makan mereka juga tidak selalu sama.
“Terkadang, dalam satu kelas, misalnya kelas 4 SD, ada anak yang bertubuh kecil, tetapi ada juga yang bertubuh besar. Anak yang bertubuh lebih besar terkadang membutuhkan makanan lebih banyak daripada anak yang bertubuh lebih kecil,” ujarnya.
Ia menambahkan, pembagian porsi awal tetap mengikuti takaran gizi yang telah ditetapkan. Siswa yang masih merasa kurang dapat memperoleh tambahan dari makanan cadangan setelah seluruh siswa menerima porsi masing-masing.
Selain memberikan kesempatan bagi siswa untuk menambah makanan, sistem prasmanan juga dinilai mendukung kualitas penyajian. Sudaryono menyebut waktu penyimpanan atau holding time makanan dalam uji coba tersebut menjadi lebih singkat, yakni sekitar dua jam.
Makanan dibawa ke sekolah dalam kondisi masih hangat sehingga lebih disukai siswa. Proses pembagian porsi juga dinilai menjadi lebih baik.
Berdasarkan survei kepuasan yang disampaikan Sudaryono, pelaksanaan uji coba tersebut memperoleh nilai sekitar 4,56 dari skala 5.
Meski demikian, ia menyebut masih ada sejumlah hal yang perlu diperhatikan dalam penerapan sistem prasmanan, terutama terkait alokasi waktu makan dan fasilitas pendukung di sekolah.
Untuk mengatasi persoalan waktu, Sudaryono mengusulkan agar sekolah menyediakan waktu khusus untuk kegiatan makan, terutama bagi sekolah yang kegiatan belajarnya berlangsung hingga siang hari.
Ia mencontohkan alokasi waktu sekitar satu jam, yakni pukul 12.00 hingga 13.00. Waktu tersebut dapat dimanfaatkan untuk kegiatan makan sekaligus pendidikan gizi bagi siswa.
Dari sisi fasilitas, Sudaryono mengusulkan agar makanan disajikan di setiap kelas, bukan hanya melalui satu titik prasmanan untuk seluruh sekolah. Menurut dia, pola tersebut diperlukan agar proses pembagian makanan dapat berlangsung lebih efektif.
“Karena itu, prasmanan dibawa ke kelas masing-masing. Jika ada 30 kelas, berarti disiapkan untuk 30 kelas,” jelasnya.
Ia juga menyampaikan gagasan pemanfaatan ruang kelas yang tidak terpakai sebagai ruang makan. Selain itu, penambahan ruang makan dapat dipertimbangkan dalam proses renovasi sekolah.
Uji coba tersebut menjadi salah satu bahan evaluasi untuk mendukung pelaksanaan MBG di sekolah. Pengaturan waktu, penyajian makanan, dan ketersediaan fasilitas menjadi sejumlah aspek yang perlu diperhatikan agar sistem prasmanan dapat berjalan optimal.