JATENG – Letda Inf Jihad Ahmad Al Rasyid, tewas diduga ditembak rekannya saat bertugas di Solo, Jawa Tengah. Hingga kini, kronologi dan motif penembakan belum diungkap secara resmi.
Jenazah Jihad telah dipulangkan ke Kota Sorong, Papua Barat Daya, untuk dimakamkan secara militer di Taman Makam Bahagia Kota Sorong. Kedatangan jenazah dikawal langsung oleh Dangrup 2 Kopassus, Brigjen TNI Edwin Apria Candra.
Di tengah duka atas kepergian Jihad, keluarga meminta Mabes TNI dan Markas Komando (Mako) Kopassus memberikan penjelasan terbuka mengenai insiden tersebut. Mereka juga menuntut kepastian mengenai proses hukum terhadap pihak yang diduga terlibat dalam penembakan.
Perwakilan keluarga, Lantoga Sapua, mengatakan informasi yang diterima sejauh ini baru sebatas dugaan bahwa terduga pelaku telah ditangani secara internal oleh kesatuannya. Namun, keluarga belum mendapatkan penjelasan terperinci mengenai kronologi kejadian maupun status hukum terduga pelaku.
“Kami butuh kepastian dan keterbukaan. Keluarga hanya ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi dan bagaimana proses hukum terhadap pelaku,” kata Lantoga, Senin (26/10/2026).
Jihad merupakan putra kedua dari Mayor Inf Triyana, Kepala Penerangan Korem (Kapenrem) 181/PVT Sorong, dan Zainab Jelfoom, Sekretaris Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PM-PTSP) Kota Sorong.
Desakan agar kasus penembakan tersebut diusut tuntas juga disampaikan anggota DPD, Hartono. Saat mengunjungi rumah duka, Hartono menyatakan akan mengawal penanganan perkara tersebut hingga ke tingkat pusat.
Hartono mengungkapkan telah berkoordinasi langsung dengan Wakil Kepala Badan Intelijen Negara (BIN), Letjen TNI Rafael Granada Baay. Ia juga berencana membawa kasus yang menewaskan anggota Kopassus itu ke dalam rapat dewan.
Sementara itu, prosesi pemakaman militer Jihad dipimpin oleh Danrem 181/PVT Sorong Brigjen TNI Slamet Riadi bersama Dangrup 6 Kopassus Brigjen TNI Richard Arnold Y Sangari.
Dalam kesempatan tersebut, keduanya menegaskan komitmen moral kesatuan untuk memastikan proses hukum atas kasus ini berjalan sesuai dengan ketentuan peradilan militer yang berlaku.
Jihad diketahui merupakan perwira muda lulusan pendidikan militer di Rusia. Namun, hingga kini, informasi mengenai bagaimana penembakan itu terjadi saat dirinya bertugas di Solo belum disampaikan secara lengkap kepada publik.
Mako Kopassus juga belum mengeluarkan pernyataan resmi tertulis mengenai motif penembakan maupun perkembangan penanganan terhadap terduga pelaku.
Keluarga berharap Mabes TNI dan Kopassus segera memberikan penjelasan menyeluruh mengenai insiden tersebut. Selain mengungkap kronologi kejadian, mereka meminta kepastian bahwa proses hukum terhadap pihak yang diduga terlibat berjalan sesuai ketentuan yang berlaku.