JAKARTA – Peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98 menjadi momentum bagi generasi muda untuk memperkuat persatuan dan menjaga semangat kebangsaan. Mahasiswa menilai perbedaan pandangan perlu disikapi secara dewasa melalui dialog dan penyampaian aspirasi secara damai.
Pesan tersebut disampaikan perwakilan Posko Mahasiswa Indonesia dari sejumlah komisariat perguruan tinggi di Jakarta pada Selasa (27/10/2026). Mereka mengajak generasi muda tetap kritis dalam menyikapi persoalan nasional tanpa mengesampingkan persatuan dan idealisme mahasiswa.
Perwakilan Posko Mahasiswa Indonesia Komisariat Universitas Jayabaya, Jesika Boangmanalu, mengatakan persatuan seluruh elemen masyarakat merupakan fondasi penting dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Menurut Jesika, generasi muda memiliki tanggung jawab untuk merawat kebersamaan di tengah perbedaan serta mewaspadai berbagai upaya yang berpotensi memecah belah bangsa.
“Persatuan merupakan energi yang harus dijaga oleh setiap warga Indonesia, utamanya generasi muda yang menjadi tumpuan bangsa di kemudian hari,” ujar Jesika.
Senada dengan Jesika, perwakilan Posko Mahasiswa Indonesia Komisariat Universitas YAI, Fajar Novryanto, menegaskan bahwa mahasiswa harus tetap kritis dalam menyikapi persoalan bangsa. Sikap tersebut, menurutnya, dapat diwujudkan melalui tulisan, diskusi akademis, dan gagasan yang menawarkan solusi.
Ia menilai demonstrasi juga dapat menjadi sarana menyampaikan aspirasi ketika dialog tidak menemukan titik temu. Namun, penyampaian pendapat harus tetap dilakukan secara damai dan bertanggung jawab.
“Kami menolak segala bentuk unjuk rasa yang disampaikan dengan cara-cara yang anarkis. Bagi kami, jalan kekerasan bukanlah pilihan, sebab unjuk rasa harus memberikan kontribusi yang positif bagi kelangsungan kehidupan berbangsa dan bernegara, bukan sebaliknya,” tegas Fajar.
Sementara itu, perwakilan Posko Mahasiswa Indonesia Komisariat Universitas Nasional (Unas), Aleksander Amsterdam, mengingatkan pentingnya menjaga soliditas dan idealisme mahasiswa agar gerakan mereka tidak dimanfaatkan untuk kepentingan politik praktis.
“Kekritisan dan idealisme merupakan modal utama mahasiswa dalam memperjuangkan nilai-nilai persatuan Indonesia. Tanpa itu, mahasiswa akan rentan ditunggangi dan bahkan tanpa sadar menjadi agen proxy yang memecah belah Indonesia,” pungkasnya.
