Juara dunia F1 bertahan, Lando Norris, secara terbuka mengakui bahwa dirinya kerap merenungi ucapan dan sikapnya setiap kali selesai meladeni sesi wawancara dengan media. Pebalap asal Inggris tersebut tanpa ragu menyebut bahwa dirinya “kadang-kadang memang bukan yang terbaik” dalam mengontrol perkataan.
Pebalap McLaren berusia 26 tahun ini memang dikenal sangat jujur dan selalu mengekspresikan perasaannya secara blak-blakan (wear his heart on his sleeve). Karakter inilah yang membuat Norris dicintai jutaan penggemarnya. Namun di sisi lain, kepolosan dan luapan emosinya saat tensi balapan tinggi tak jarang justru melemparkannya ke dalam pusaran kontroversi.
Rentetan Kontroversi: Dari Colapinto hingga Wawancara Sinis
Belakangan ini, nama Norris sempat menjadi sorotan hangat usai melontarkan kritikan pedas kepada pebalap Alpine, Franco Colapinto. Usai terlibat insiden tabrakan yang menyingkirkannya di GP Azerbaijan, Norris sempat berujar bahwa Colapinto “tidak layak berada di Formula 1” dan mendesak adanya sanksi larangan membalap. Sontak, komentar tersebut memicu gelombang kritik dari publik hingga akhirnya Norris menyampaikan permohonan maaf langsung kepada pebalap asal Argentina tersebut.
Tak berhenti di situ, momen canggung lainnya juga terjadi saat GP Singapura pasca-insiden senggolan dengan rekan setimnya sendiri, Oscar Piastri, pada balapan Sprint. Wawancara Norris bersama media Viaplay mendadak viral di media sosial akibat respons sinis sang pebalap kepada reporter:
Norris: “Apa nama balapan tadi? Sprint… Nah, apa setelah kata sprint?” Reporter: “Balapan (Race).” Norris: “Wow, pintar sekali. Ya, betul, balapan!” cetusnya dengan nada sarkastis.
Pengakuan Jujur Norris: “Saya Benci Saat Salah Bicara”
Dalam wawancara mendalam bersama legenda F1 sekaligus komentator Sky Sports F1, Martin Brundle, Norris akhirnya angkat bicara soal sisi penyesalannya di balik sorotan kamera.
“Saya kadang tidak tampil baik di depan media. Saya benci saat salah bicara, atau saat ucapan saya justru terkesan tidak menghormati orang lain—saya sangat membenci hal itu,” ungkap Norris jujur.
Hasil kurang memuaskan saat kualifikasi dan finis di posisi kelima pada GP Amerika Serikat di Austin kian menambah beban pikirannya. Norris mengaku dampak dari ucapannya kerap membayangi pikirannya hingga tiba di rumah.
“Begitu sampai di rumah, saya bisa mempertanyakan hal itu selama berjam-jam. Mengapa saya mengatakan hal itu? Mengapa saya melakukan tindakan tersebut?” tuturnya.
Ketika Brundle menyela dan mengingatkan bahwa publik justru mencintai kejujuran serta sifatnya yang transparan, Norris memberikan jawaban yang bijak:
“Saya sangat paham poin itu. Tapi tetap ada batasan yang tidak boleh dilangkahi. Bagi saya, tidak ada hal yang lebih saya junjung tinggi selain rasa hormat—baik saat menerima hormat dari orang lain, maupun saat memberikan rasa hormat itu kembali,” pungkasnya.