Fenomena dentuman keras yang menggelegar di kawasan Bojonegoro dan sekitarnya terus memicu teka-teki serta spekulasi liar di tengah masyarakat. Kehadiran berbagai potongan video yang memperlihatkan kilatan cahaya misterius di langit malam kian memperpanjang rantai asumsi, mulai dari tudingan jatuhnya meteorit, aktivitas geologi bawah tanah, hingga fenomena cuaca ekstrem.
Menanggapi kehebohan tersebut, Dosen Departemen Geofisika dan Meteorologi IPB University, Dr. Givo Alsepan, menegaskan bahwa suara dentuman yang belum teridentifikasi tidak bisa serta-merta langsung disimpulkan asal-usulnya.
Menurutnya, investigasi ilmiah yang komprehensif dari lintas disiplin ilmu—meliputi fisika atmosfer, geofisika, hingga astronomi—sangat mutlak diperlukan.
“Kemiripan suara tidak bisa dijadikan bukti kesamaan penyebab. Untuk membedah sumber bunyi secara akurat, kita harus menggabungkan bukti ilmiah dari berbagai bidang ilmu, bukan sekadar bersandar pada kesaksian atau rekaman yang beredar di media sosial,” papar Dr. Givo.
Mengurai 3 Kemungkinan: Dari Gelombang Kejut Meteor Hingga Inversi Suhu
Dr. Givo menguraikan beberapa kemungkinan hipotesis ilmiah yang perlu diuji satu per satu di lapangan:
-
Gelombang Kejut Meteor (Sonic Boom): Benda antariksa yang melaju cepat saat memasuki atmosfer Bumi akan mengalami gesekan dan pemanasan ekstrem. Kondisi ini berpotensi memicu gelombang kejut (shockwave) yang terdengar seperti dentuman ledakan di permukaan tanah. Namun, kilatan cahaya dalam video tetap harus diverifikasi keaslian sudut lokasi, waktu kejadian, dan lintasannya.
-
Fenomena Atmosferik & Inversi Suhu: Perubahan struktur suhu udara serta aktivitas petir dapat membiaskan gelombang suara. Pada kondisi inversi suhu tertentu, gelombang suara dari lokasi yang sangat jauh dapat memantul dan terdengar sangat nyaring di kawasan lain.
-
Pelepasan Energi Geologi: Pergerakan atau patahan batuan di dalam Bumi bisa menghasilkan getaran dan suara keras, meski tidak selalu tercatat sebagai gempa bumi biasa.
BMKG Tak Catat Gempa, Pakar Ingatkan Aspek Pembuktian
Terkait dugaan aktivitas tektonik, data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Nganjuk sebelumnya mengonfirmasi bahwa tidak ada rekaman sinyal kegempaan di sekitar kawasan Gunung Pandan saat dentuman terjadi.
“Data nihil dari BMKG ini memang memperkecil dugaan adanya gempa tektonik. Namun, hal itu juga belum otomatis membuktikan bahwa penyebabnya adalah meteor atau fenomena atmosfer tertentu,” tambah Dr. Givo.
Demi mengurai benang kusut misteri ini, tim ahli membutuhkan analisis silang (cross-check) antara rekaman kamera pengawas (CCTV) dari berbagai sudut, data seismograf, pemetaan aktivitas kilat, hingga jeda waktu antara munculnya kilatan cahaya dan datangnya dentuman suara.
Ia mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan tidak terburu-buru menyebarkan asumsi sebagai fakta mutlak sebelum ada rilis resmi dari otoritas ilmiah.
“Sebelum penyebabnya terverifikasi secara ilmiah, penjelasan paling jujur adalah sumber dentuman tersebut masih belum dapat dipastikan. Warga yang memiliki rekaman kejadian dianjurkan menyimpan berkas aslinya untuk diserahkan ke pihak berwenang. Jika menemukan benda asing di lapangan, jaga jarak aman dan jangan disentuh,” tutup Dr. Givo menegaskan.