Penantian panjang dan melelahkan akhirnya terbayar sudah. Setelah didera kemarau ekstrem selama empat bulan berturut-turut yang memicu amukan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) terparah di Sumatra Selatan, langit Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) akhirnya mencurahkan air hujan secara deras pada Rabu (28/10/2026).
Suasana haru dan penuh kelegaan langsung menyelimuti para petugas di lapangan. Dalam sebuah rekaman video yang dibagikan oleh Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan (Dalkarhut) Wilayah Sumatra, Ferdian Krisnanto, tampak personel Manggala Agni bersama satgas darat meluapkan rasa syukur yang mendalam begitu tetes-tetes air hujan jatuh membasahi bumi.
“Ya Allah hujan, ini lokasi karhutlanya. Sekarang hujan deras, alhamdulillah,” seru seorang petugas dalam video tersebut dengan nada bergetar, disusul gelak tawa bahagia rekan-rekannya yang langsung bergegas menggulung selang air panjang dan naik ke kendaraan.
Merata di 18 Kecamatan dan Efek Operasi Modifikasi Cuaca (OMC)
Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Sumatra Selatan, Wandayantolis, mengonfirmasi bahwa hujan yang turun hari ini terpantau cukup merata di berbagai wilayah Sumsel, termasuk OKU, Muara Enim, Ogan Ilir, hingga Kota Palembang, serta berpotensi meluas ke daerah lainnya.
Khusus untuk Kabupaten OKI—yang tercatat sebagai wilayah dengan luasan karhutla terbesar selama musim kemarau 2026—hujan deras mengguyur 18 kecamatan sekaligus. Kawasan-kawasan tersebut meliputi:
-
Tanjung Lubuk, Pedamaran, Mesuji, dan Kayu Agung
-
Sirah Pulau Padang, Tulung Selapan, Pampangan, dan Lempuing
-
Air Sugihan, Sungai Menang, Jejawi, Cengal, hingga Pangkalan Lampam
-
Mesuji Makmur, Mesuji Raya, Lempuing Jaya, Teluk Gelam, dan Pedamaran Timur.
Menurut Wandayantolis, meratanya hujan ini tidak lepas dari keberhasilan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) yang digencarkan di wilayah OKI, yang dijadwalkan masih akan berlangsung hingga 31 Oktober mendatang.
Harapan Baru di Tengah Titik-Titik Kritis
Ferdian Krisnanto membenarkan bahwa titik-titik krusial seperti kawasan Talang Rimba, Kecamatan Cengal—di mana para petugas sebelumnya harus berjibaku memadamkan api menggunakan sisa air di kanal-kanal yang mulai mengering—kini telah diguyur hujan lebat.
Kendati demikian, pihak Dalkarhut masih akan bersiaga penuh untuk memastikan apakah seluruh titik api benar-benar telah padam total setelah guyuran hujan ini mereda.
“Baru turun hujannya, nanti kita lakukan pengecekan ulang (recheck) di lapangan,” pungkas Ferdian.
Kehadiran hujan ini tidak hanya menjadi angin segar bagi upaya pemadaman karhutla yang telah menguras tenaga berbulan-bulan, tetapi juga mengembalikan harapan pulihnya ekosistem dan udara bersih di Bumi Sriwijaya.