JAKARTA – Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Papua Selatan mulai menunjukkan hasil positif setelah pemerintah mengintensifkan operasi modifikasi cuaca (OMC) untuk mendatangkan hujan.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat jumlah titik panas di wilayah tersebut turun drastis dari 295 titik menjadi 65 titik hanya dalam sehari.
Penurunan sebesar 78 persen itu tercatat pada Rabu (28/10/2026), dibandingkan kondisi sehari sebelumnya, Selasa (27/10/2026).
Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton Panjaitan menyebut operasi modifikasi cuaca menjadi salah satu langkah utama untuk mempercepat pemadaman kebakaran.
“Saat ini bisa kami sampaikan, dari hari-hari sebelumnya turun signifikan titik api sebesar 78 persen. Tadinya titik api sebesar 295, saat ini kita dapati ada 65 titik,” kata Berton dalam konferensi pers, Kamis (29/10).
Empat Kabupaten Jadi Prioritas Penanganan
BNPB memusatkan penanganan karhutla di empat wilayah Papua Selatan, meliputi Kabupaten Merauke, Boven Digoel, Mappi, dan Asmat.
Total lahan yang telah terbakar di empat kabupaten tersebut mencapai 161,5 hektare sehingga membutuhkan penanganan intensif.
Untuk memicu hujan buatan, pemerintah telah menjalankan 10 sorti operasi modifikasi cuaca dengan menggunakan total 10.000 kilogram atau 10 ton garam.
Penyemaian bahan tersebut berhasil memicu hujan di wilayah utara dan tengah Merauke, bagian selatan Boven Digoel, serta kawasan selatan Mappi.
Namun, BNPB masih mencatat Kabupaten Asmat sebagai wilayah yang belum terpantau mendapatkan hujan sehingga operasi penanganan terus dilanjutkan.
“Tentu upaya-upaya tetap kami laksanakan untuk memadamkan api ini, sehingga nantinya Papua Selatan ini juga bebas dari api,” imbuhnya.
Jarak Pandang Membaik, Potensi Hujan Meningkat
Turunnya hujan di sejumlah kawasan Papua Selatan turut memperbaiki kondisi lingkungan, terutama dengan meningkatnya jarak pandang dari sebelumnya hanya 1–5 kilometer menjadi 7–8 kilometer.
BNPB memperkirakan peluang terbentuknya awan hujan masih meningkat, terutama di kawasan Merauke bagian selatan menjelang akhir pekan.
Kondisi tersebut diharapkan membantu mempercepat pemadaman sekaligus mengurangi dampak asap yang mengganggu aktivitas masyarakat.
El Niño Kuat Masih Mengancam Papua Selatan
Meski jumlah titik panas mengalami penurunan, BNPB mengingatkan ancaman kebakaran belum sepenuhnya berakhir karena fenomena El Niño masih berada pada kategori sangat kuat.
Kondisi cuaca kering dan tiupan angin turut meningkatkan kerentanan kawasan Papua Selatan terhadap kebakaran hutan maupun lahan gambut.
Selain itu, wilayah tersebut juga menghadapi paparan asap lintas batas yang berasal dari Papua Nugini.
“Dan tentu kami juga menyampaikan, El Niño saat ini sangat kuat dan Papua Selatan sangat rawan terbakar. Serta asap lintas batas dari Papua Nugini juga datang ke Papua Selatan,” jelas Berton.
BNPB berharap hujan dapat terus turun agar api yang masih membara, termasuk kebakaran di bawah permukaan tanah seperti lahan gambut, dapat ditangani secara menyeluruh.
“Kita berharap hujan ini pun akan tetap terjadi. Sehingga titik api baik itu yang ada di permukaan maupun yang ada di dalam permukaan, misalnya gambut, bisa teratasi dengan baik,” imbuh Berton.
Karhutla Masih Melanda 10 Provinsi
Di luar Papua Selatan, BNPB masih melakukan penanganan kebakaran dengan total luas lahan terdampak mencapai 462 hektare di 10 provinsi.
Sejumlah wilayah yang masih menjadi perhatian pemerintah antara lain Kalimantan Timur, Sulawesi Tengah, dan Maluku.
Operasi modifikasi cuaca juga terus diperluas ke daerah yang memiliki tingkat kerawanan kebakaran tinggi.
Pada Rabu (28/10/2026), pemerintah mengerahkan 16 sorti OMC di Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Sumatera Selatan.
Dalam operasi tersebut, petugas menyemaikan total 22.600 kilogram bahan berupa es kering atau dry ice dan garam untuk merangsang pembentukan hujan.
Hasilnya, hujan dengan intensitas ringan hingga sedang terpantau turun di sejumlah wilayah, termasuk Kabupaten Kotawaringin Barat, Kota Banjarmasin, dan Kota Banjarbaru.
Pemerintah kini terus mengandalkan operasi modifikasi cuaca, pemantauan titik panas, serta pemadaman langsung untuk menekan penyebaran karhutla di berbagai daerah.***