Jakarta – Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menyatakan ketersediaan pangan Indonesia masih dalam kondisi aman di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik dunia. Ketahanan tersebut ditopang oleh produksi pangan dalam negeri serta cadangan beras nasional yang dinilai mencukupi untuk menghadapi potensi gangguan rantai pasok global.
Amran menyampaikan, saat sedikitnya 33 negara mulai mengimbau masyarakatnya menyiapkan persediaan makanan, air minum, obat-obatan, hingga kebutuhan darurat lainnya, Indonesia memiliki modal berupa produksi domestik dan cadangan pangan yang kuat.
“Ketika sedikitnya 33 negara mulai mendorong masyarakatnya menyiapkan persediaan makanan, air minum, obat-obatan, dan kebutuhan dasar untuk menghadapi situasi darurat, Indonesia memiliki kekuatan produksi pangan dalam negeri dan cadangan beras yang kuat,” kata Amran saat dikonfirmasi di Jakarta, Minggu (1/11).
Menurut Amran, kondisi tersebut merupakan hasil kerja keras para petani, dukungan pemerintah, serta penerapan berbagai kebijakan strategis untuk meningkatkan produksi dan mewujudkan kemandirian pangan nasional. Ia menilai kemampuan memenuhi kebutuhan pangan secara mandiri menjadi semakin penting ketika dunia menghadapi ketidakpastian geopolitik.
“Alhamdulillah, kita patut bersyukur. Di saat dunia sedang menghadapi ketegangan geopolitik, ancaman krisis pangan, dan gangguan rantai pasok, kondisi pangan Indonesia relatif aman,” ujar dia.
“Indonesia mempunyai produksi dalam negeri, punya cadangan, dan terus memperkuat kemampuan memenuhi kebutuhan pangan sendiri. Ini yang harus kita jaga,” kata Amran menambahkan.
33 Negara Siapkan Persediaan Pangan Darurat
Kewaspadaan terhadap kemungkinan krisis semakin meningkat di berbagai belahan dunia. Sedikitnya 33 negara telah mengeluarkan imbauan agar masyarakat memiliki persediaan kebutuhan dasar di rumah untuk menghadapi situasi darurat.
Sejumlah negara merekomendasikan penyimpanan bahan pangan tahan lama, air minum, obat-obatan, serta perlengkapan darurat untuk kebutuhan minimal 72 jam atau tiga hari.
Inggris dan Jepang menjadi dua negara yang memperkuat imbauan tersebut. Pemerintah Inggris meminta setiap rumah tangga menyiapkan persediaan makanan dan air minum untuk memenuhi kebutuhan selama sedikitnya tiga hari.
Sementara itu, Jepang mendorong masyarakat menyimpan kebutuhan pokok untuk minimal tiga hari, bahkan hingga satu minggu apabila memungkinkan.
Langkah antisipasi tersebut dilakukan untuk menghadapi berbagai risiko, seperti konflik geopolitik, bencana alam, cuaca ekstrem, serangan siber yang berpotensi mengganggu infrastruktur, hingga hambatan distribusi dan rantai pasok kebutuhan pokok.
Cadangan Beras Indonesia Diperkirakan Capai 25 Juta Ton
Di tengah situasi tersebut, Amran memaparkan bahwa Indonesia memiliki ketersediaan beras yang cukup besar. Berdasarkan data per 26 Oktober 2026, cadangan beras pemerintah (CBP) yang dikelola Perum Bulog mencapai sekitar 4,5 juta ton.
Selain cadangan Bulog, Indonesia memiliki potensi sekitar 10 juta ton beras dari standing crop atau tanaman padi yang siap dipanen. Kemudian, terdapat sekitar 10 juta ton stok beras di sektor hotel, restoran, dan katering (horeka).
Dengan menggabungkan ketiga komponen tersebut, total ketersediaan beras nasional diperkirakan mencapai sekitar 25 juta ton. Angka tersebut dibandingkan dengan kebutuhan beras nasional yang berada di kisaran 2,5 juta ton setiap bulan.
“Kalau kita hitung, stok di Bulog sekitar 4,5 juta ton, standing crop sekitar 10 juta ton, dan stok di horeka sekitar 10 juta ton. Total sekitar 25 juta ton. Sementara kebutuhan kita sekitar 2,5 juta ton per bulan. Artinya, ketersediaan kita sangat kuat. Ini yang membuat kita lebih siap menghadapi berbagai gejolak global,” ujar dia.
Swasembada Beras Jadi Fondasi Ketahanan Pangan
Amran menegaskan, keberhasilan Indonesia mempertahankan swasembada beras tanpa impor menjadi salah satu fondasi penting dalam menjaga ketahanan pangan nasional.
Menurutnya, ketergantungan terhadap pasokan pangan dari negara lain dapat meningkatkan risiko apabila terjadi konflik besar yang mengganggu jalur perdagangan internasional atau membuat negara-negara produsen membatasi ekspor.
Ia juga menekankan bahwa ketahanan pangan tidak hanya berkaitan dengan jumlah persediaan, tetapi menyangkut kedaulatan bangsa. Kemampuan memproduksi kebutuhan pangan sendiri dinilai dapat memberikan perlindungan lebih besar bagi masyarakat dari gejolak harga dan gangguan pasokan dunia.
“Kita tidak boleh bergantung pada negara lain untuk urusan pangan. Bayangkan kalau terjadi konflik besar, jalur perdagangan terganggu, negara-negara menahan ekspornya, sementara kita masih bergantung pada impor. Risikonya sangat besar. Karena itu, swasembada adalah kekuatan dan perlindungan bagi bangsa,” tegasnya.
Untuk mempertahankan produksi, Kementerian Pertanian terus menjalankan sejumlah program strategis. Di antaranya optimalisasi lahan, pompanisasi, perbaikan jaringan irigasi, penyediaan benih unggul, serta peningkatan produktivitas pertanian.
Pemerintah juga memperkuat langkah antisipasi terhadap perubahan iklim dan potensi kekeringan yang dapat mengganggu hasil panen.
Amran memastikan penguatan produksi dalam negeri, ketersediaan cadangan pangan, dan perlindungan petani akan terus menjadi perhatian pemerintah.
“Alhamdulillah, kita patut bersyukur pangan Indonesia aman. Tapi kita tidak boleh berpuas diri. Produksi harus terus ditingkatkan, cadangan diperkuat, dan petani dilindungi. Ada keringat petani dan ada negara yang hadir,” katanya.