DEMAK – Banjir yang melanda Kabupaten Demak, Jawa Tengah meluas ke berbagai wilayah akibat jebolnya tanggul Sungai Tuntang yang tak mampu menahan lonjakan debit air pascahujan deras.
Perkembangan terbaru menunjukkan kondisi banjir semakin mengkhawatirkan karena genangan air terus meluas hingga merendam delapan desa yang tersebar di empat kecamatan terdampak.
Data terkini dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengungkapkan bahwa bencana ini telah memaksa ribuan warga meninggalkan rumah mereka demi keselamatan.
Hujan dengan intensitas tinggi yang mengguyur kawasan tersebut sejak Jumat, 3 April 2026, menjadi pemicu utama meningkatnya volume air Sungai Tuntang secara signifikan.
Kondisi tersebut diperparah oleh tekanan air yang besar hingga menyebabkan tanggul jebol di tiga titik berbeda, sehingga aliran air meluap dan menggenangi kawasan permukiman.
Berdasarkan hasil kaji cepat BNPB, wilayah terdampak mencakup delapan desa yang berada di Kecamatan Guntur, Karangtengah, Wonosalam, dan Kebonagung.
Selain permukiman warga, banjir juga merendam fasilitas umum serta lahan pertanian yang menjadi sumber penghidupan masyarakat setempat.
Warga yang terdampak terlihat berupaya menyelamatkan barang berharga sambil mengevakuasi anggota keluarga ke lokasi yang lebih aman.
Jumlah pengungsi terus bertambah dan saat ini tercatat mencapai 2.839 jiwa yang tersebar di berbagai titik pengungsian.
Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, mengatakan warga terpaksa mengungsi akibat banjir yang dipicu tingginya intensitas hujan.
Serta meluapnya Sungai Tuntang yang menyebabkan sejumlah tanggul jebol di wilayah terdampak.
Sebaran pengungsi sementara tercatat berada di Masjid Babu Rohim Dukuh Solondoko sebanyak 200 jiwa.
Kemudian di Masjid Rodhotul Janah Dukuh Solowere sebanyak 500 jiwa.
Selanjutnya di Kantor Kecamatan Guntur terdapat 119 jiwa.
Serta di kawasan Tanggul Gobang tercatat sebanyak 400 jiwa mengungsi.
Selain itu, warga juga menempati balai desa, mushola, madrasah, hingga rumah warga yang masih terus didata oleh petugas.
Sejumlah pengungsi dilaporkan mengalami gangguan kesehatan dan telah mendapatkan penanganan dari dinas kesehatan setempat.
Merespons situasi darurat ini, Kepala BNPB Suharyanto langsung menginstruksikan koordinasi intensif dengan BPBD Provinsi Jawa Tengah.
Langkah tersebut dilakukan untuk mempercepat identifikasi kebutuhan mendesak bagi para korban banjir.
Tim BNPB juga telah diterjunkan ke lokasi guna memberikan pendampingan serta mempercepat penanganan darurat di wilayah terdampak.
Upaya ini diharapkan mampu menekan dampak lanjutan serta memastikan keselamatan warga di tengah situasi yang masih berkembang.***



