JAKARTA — Pengamat militer dan intelijen, Susaningtyas Nefo Handayani Kertopati (Nuning) mendesak Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Badan Narkotika Nasional (BNN), dan kepolisian untuk mengusut tuntas temuan 996 pucuk senjata serta narkotika di sekolah swasta di Pondok Pinang, Jakarta Selatan.
Nuning menegaskan bahwa penanganan perkara ini tidak boleh hanya berfokus pada identifikasi jenis dan legalitas senjata. Potensi keterlibatan jaringan terorisme serta asal-usul peredaran narkotika di lingkungan pendidikan wajib digali secara mendalam demi keamanan masyarakat.
“Soal ada atau tidak keterlibatan teroris, BNPT dan polisi harus secara mendalam menyelidikinya. Tanpa penyelidikan mendalam, sulit untuk diketahui,” kata Nuning dalam keterangan tertulis yang diterima Garuda.Tv, Sabtu (15/8/2026).
Menurut Nuning, kepemilikan senjata dalam jumlah masif oleh perorangan secara aturan sangat tidak mungkin memiliki izin sah. Terlebih lagi, ratusan senjata tersebut ditemukan di satu lokasi bersama barang bukti narkotika dan dugaan konten pornografi.
“Menurut saya tidak mungkin seseorang secara sah memiliki senjata dalam jumlah sebesar itu—hampir 1.000 pucuk senjata, CD porno, narkoba, dan lainnya,” lanjutnya.
Oleh karena itu, ia juga mendorong BNN dan Direktorat Reserse Narkoba Polda Metro Jaya untuk membongkar rantai pasokan narkotika tersebut secara transparan. Penelusuran alur intelijen atas seluruh barang bukti sangat penting dilakukan agar tidak memicu spekulasi publik maupun disalahgunakan oleh pihak tidak bertanggung jawab.
“Temuan senjata api dan narkotika ini merupakan dugaan tindak pidana yang harus diproses serius sesuai hukum yang berlaku. Siklus intelijen dari seluruh barang itu harus ditelusuri secara detail, jangan sampai keberadaannya justru mengganggu keamanan dan ketenteraman masyarakat,” tegas Nuning.
Sebagaimana diberitakan sebelumnya, Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Kombes Budi Hermanto menjelaskan bahwa tim gabungan Subdit Wasendak Ditintelkam Polda Metro Jaya dan Polres Metro Jakarta Selatan telah mengidentifikasi seluruh fisik barang bukti.
Dari total 996 pucuk senjata yang disita dari ruangan Ketua Yayasan, hasil verifikasi awal menunjukkan mayoritas merupakan senjata angin. Langkah pemeriksaan rinci ini dilakukan untuk mencegah simpang siur informasi di masyarakat.
Untuk mendalami mekanisme impor dan perizinannya, pihak kepolisian menjadwalkan pemanggilan terhadap mantan Ketua Yayasan sekolah berinisial IWD pada pekan depan.
“Keterangan dari IWD nantinya akan dicocokkan dengan data yang sudah dikumpulkan penyidik, guna memastikan apakah proses importasi ratusan pucuk senjata itu ditempuh secara legal atau justru menyalahi aturan,” tutup Budi.



