JAKARTA – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) terus memperkuat kapasitas teknologi antariksa nasional melalui pengembangan dua satelit generasi terbaru. Kedua satelit tersebut diproyeksikan menjadi tulang punggung sistem observasi Bumi dan peringatan dini bencana di Indonesia yang selama ini menghadapi tantangan geografis dan tingginya risiko bencana alam.
Pengembangan itu mencakup satelit Nusantara Earth Observation-1 (NEO-1) dan Nusantara Equatorial IoT (NEI). Keduanya dirancang untuk meningkatkan kemampuan pemantauan wilayah Indonesia secara lebih cepat, presisi, dan berkelanjutan.
Perekayasa Ahli Pertama Pusat Riset Teknologi Satelit BRIN, Nur Salma Yusuf Hasanah, mengatakan NEO-1 saat ini tengah dipersiapkan sebagai satelit observasi Bumi dengan kemampuan penginderaan yang lebih modern dibanding generasi sebelumnya.
“Mudah-mudahan dapat segera diluncurkan,” ujar Salma saat menerima kunjungan Sekolah Alam Bogor di Kawasan Sains Ibnoe Soebroto, Rancabungur,.
Menurut dia, NEO-1 akan dibekali kamera multispektral beresolusi tinggi yang mampu mendukung pemetaan dan pemantauan kondisi permukaan Bumi secara detail. Selain itu, satelit tersebut juga dilengkapi sensor magnetometer untuk mengukur medan magnet dan sistem komunikasi data untuk mendukung pengiriman informasi secara cepat.
Teknologi itu dinilai penting untuk berbagai kebutuhan strategis nasional, mulai dari pemantauan lingkungan, kehutanan, pertanian, hingga pengawasan wilayah maritim Indonesia yang sangat luas.
Tidak hanya fokus pada observasi Bumi, BRIN juga mengembangkan satelit NEI yang dirancang khusus untuk mendukung sistem mitigasi bencana nasional. Satelit ini akan mengintegrasikan data dari berbagai sensor pemantauan seperti gempa bumi, tsunami, dan cuaca ekstrem.
Keunggulan utama NEI terletak pada konsep pengoperasiannya yang menggunakan sistem konstelasi satelit. Artinya, pengawasan tidak hanya mengandalkan satu satelit tunggal, melainkan sejumlah satelit yang bekerja secara bersamaan di orbit ekuatorial.
“Satelit ini akan dirancang dalam bentuk konstelasi. Tujuannya untuk memantau wilayah Indonesia secara waktu nyata tanpa jeda. Harapannya, terdapat sekitar 10 satelit yang mengorbit di wilayah ekuatorial,” jelas Salma.
Konsep tersebut menjadi langkah strategis mengingat Indonesia berada di kawasan cincin api Pasifik atau Ring of Fire yang rawan gempa bumi, tsunami, hingga aktivitas vulkanik. Dengan sistem pemantauan real-time, proses deteksi dini bencana diharapkan dapat berlangsung lebih cepat sehingga memperbesar peluang penyelamatan masyarakat.
Selain mendukung mitigasi bencana, NEI juga akan digunakan untuk kebutuhan komunikasi kebencanaan, pemantauan maritim, hingga pengawasan jalur penerbangan nasional. Sistem ini dinilai dapat memperkuat kemandirian teknologi Indonesia di sektor antariksa sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap data satelit asing.
Pengembangan dua satelit baru tersebut menjadi kelanjutan dari perjalanan panjang program satelit nasional yang sebelumnya dikembangkan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), yang kini telah terintegrasi ke dalam BRIN.
Indonesia sebelumnya sukses meluncurkan tiga satelit seri LAPAN, yakni LAPAN-A1 pada 2007, LAPAN-A2 pada 2015, dan LAPAN-A3 pada 2016. Ketiga satelit itu digunakan untuk berbagai misi, mulai dari observasi Bumi, komunikasi satelit, pemantauan maritim, hingga eksperimen teknologi antariksa.
Keberhasilan peluncuran satelit-satelit tersebut menjadi fondasi penting bagi pengembangan teknologi antariksa nasional yang kini memasuki tahap lebih maju melalui proyek NEO-1 dan NEI.
Dalam mendukung operasional satelit nasional, BRIN juga telah mengoperasikan empat stasiun bumi yang tersebar di sejumlah wilayah strategis Indonesia, yakni di Agam, Bogor, Parepare, dan Biak.
Keberadaan stasiun bumi itu berfungsi sebagai pusat penerimaan data, pengendalian satelit, sekaligus jalur komunikasi utama untuk memastikan seluruh sistem satelit nasional dapat berjalan optimal.
Langkah BRIN mengembangkan satelit generasi terbaru dinilai menjadi bagian penting dalam memperkuat ketahanan nasional berbasis teknologi. Di tengah ancaman perubahan iklim dan tingginya intensitas bencana alam, sistem pemantauan berbasis satelit menjadi kebutuhan vital bagi Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia.