BANGKOK, THAILAND – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyoroti potensi ekonomi antariksa untuk membuka peluang pertumbuhan ekonomi baru sekaligus mendukung pembangunan berkelanjutan. Isu ini menjadi salah satu pembahasan dalam konferensi tingkat menteri Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Bangkok, Thailand.
Wakil Kepala BRIN Prof. Amarulla Octavian yang memimpin Delegasi Indonesia menekankan pentingnya pemanfaatan teknologi antariksa untuk mendukung berbagai kebutuhan pembangunan, mulai dari mitigasi bencana hingga pemantauan wilayah laut.
Hal tersebut disampaikan dalam 5th Ministerial Conference on Space Applications for Sustainable Development in Asia and the Pacific, yang diselenggarakan oleh United Nations Economic and Social Commission for Asia and the Pacific (UN ESCAP) bersama Pemerintah Thailand.
Konferensi yang berlangsung selama dua hari hingga Kamis (29/10/2026) itu dihadiri perwakilan dari 62 negara anggota dan melibatkan 15 organisasi internasional sebagai pengamat.
Dalam forum tersebut, Indonesia juga mendorong kerja sama antarnegara agar teknologi antariksa dan data penginderaan jauh bisa dimanfaatkan lebih luas, terutama untuk mendukung pembangunan dan mengembangkan potensi ekonomi di kawasan Asia-Pasifik.
BRIN Soroti Manfaat Teknologi Antariksa
Dalam sesi diskusi kedua dan ketiga, Amarulla memaparkan arah kebijakan Indonesia dalam mengembangkan riset dan teknologi antariksa agar manfaatnya dapat dirasakan secara langsung dalam pembangunan nasional.
Salah satu fokusnya adalah pemanfaatan teknologi penginderaan jauh dan data geospasial untuk membantu mitigasi bencana. Data tersebut dapat digunakan untuk memantau perubahan kondisi wilayah dan menjadi bahan pertimbangan dalam pengambilan kebijakan.
Teknologi serupa juga berperan dalam pemantauan lingkungan. Informasi yang diperoleh melalui pengamatan dari antariksa dapat membantu mengidentifikasi perubahan wilayah dan mendukung perencanaan pembangunan.
Bagi Indonesia, pemanfaatan teknologi ini juga penting untuk memantau wilayah perairan. Sebagai negara kepulauan, Indonesia membutuhkan data yang memadai untuk mengamati kondisi laut dan memahami berbagai perubahan yang terjadi di wilayah perairannya.
”Sebagai negara kepulauan, Indonesia juga sangat berkepentingan untuk memperkuat kerja sama kawasan untuk mengamati dan menganalisa setiap perubahan yang terjadi di atas permukaan lautan, utamanya Samudera Pasifik,” katanya,
Pengembangan teknologi antariksa tidak hanya berkaitan dengan kegiatan riset. Pemanfaatannya untuk berbagai kebutuhan, termasuk pengelolaan lingkungan, mitigasi bencana, dan pemantauan laut, juga membuka peluang untuk mengembangkan kegiatan ekonomi berbasis teknologi antariksa.
Karena itu, Indonesia mendorong penguatan kerja sama regional agar negara-negara di Asia-Pasifik dapat memperluas pemanfaatan teknologi dan berbagi pengetahuan untuk menjawab kebutuhan pembangunan.
Indonesia Dorong Kerja Sama Pemantauan Laut
Selain mitigasi bencana, Indonesia menyoroti pentingnya kolaborasi regional untuk memantau dan menganalisis perubahan kondisi laut. Kerja sama ini dinilai relevan mengingat luasnya wilayah perairan Indonesia dan keterkaitannya dengan kawasan Asia-Pasifik.
Melalui teknologi penginderaan jauh, pengamatan wilayah perairan dapat dilakukan dengan dukungan data yang membantu memahami kondisi lingkungan laut, termasuk di kawasan yang membentang hingga Samudra Pasifik.
Indonesia menilai kolaborasi antarnegara diperlukan agar pemanfaatan data tersebut semakin optimal. Selain mendukung pemantauan lingkungan, informasi yang dihasilkan juga dapat menjadi bahan pertimbangan dalam penyusunan kebijakan pembangunan berkelanjutan.
Dalam konferensi yang sama, Delegasi Indonesia menyampaikan laporan capaian pelaksanaan Asia-Pacific Plan of Action on Space Applications for Sustainable Development Tahap II untuk periode 2002–2026.
Laporan itu menjadi bagian dari evaluasi bersama negara-negara Asia-Pasifik mengenai pemanfaatan teknologi antariksa untuk mendukung pembangunan berkelanjutan di kawasan.
Delegasi Indonesia turut melibatkan Duta Besar RI untuk Thailand Hari Prabowo dan Direktur Eksekutif Indonesian National Space Agency (INASA) Prof. Erna Sri Adiningsih.
Deklarasi Bangkok Jadi Acuan Kerja Sama 2026–2030
Di sela-sela sidang pleno, delegasi Indonesia juga melakukan kunjungan kehormatan kepada Sekretaris Eksekutif UN ESCAP, Prof. Armida Salsiah Alisjahbana. Pertemuan tersebut membahas penguatan sinergi program pembangunan di kawasan Asia-Pasifik.
Konferensi kemudian ditutup dengan perumusan Deklarasi Bangkok yang memuat Rencana Aksi Tahap III untuk periode 2026–2030. Dokumen ini menjadi acuan kerja sama regional dalam mendorong pemanfaatan teknologi antariksa untuk pembangunan berkelanjutan.
Melalui rencana aksi tersebut, negara-negara di kawasan Asia-Pasifik diharapkan dapat memperkuat pemanfaatan teknologi antariksa untuk menghadapi tantangan lingkungan dan bencana, sekaligus mengembangkan peluang ekonomi baru.
Bagi Indonesia, forum ini menjadi kesempatan untuk menyampaikan prioritas nasional dan memperkuat kerja sama regional dalam riset serta pemanfaatan teknologi antariksa.