JAKARTA – Menekan emisi karbon dalam dunia pendidikan tinggi tidak hanya sebatas mengelola sampah atau menanam pohon di area kampus. Universitas Terbuka (UT) membuktikan bahwa transformasi model pembelajaran jarak jauh (PJJ) berbasis digital secara langsung memotong penggunaan bahan bakar minyak (BBM) serta meminimalisasi jejak lingkungan secara signifikan.
Atas konsistensi dan inovasi dalam menerapkan konsep Green Campus Digital, Universitas Terbuka dianugerahi penghargaan Anugerah Ekonomi Hijau dari detikcom pada Kamis (3/9/2026). Penghargaan bergengsi tersebut diterima langsung oleh Rektor UT, Prof. Dr. Ali Muktiyanto, S.E., M.Si.
Apresiasi ini diberikan atas keberhasilan UT memadukan teknologi digital, efisiensi sumber daya, perluasan akses pendidikan, dan prinsip keberlanjutan dalam sistem pendidikan tinggi nasional.
Misi Green Campus Digital: Kampus Datang Menghampiri Mahasiswa
Sebagai pionir PJJ di Indonesia sejak 1984, UT mentransformasi layanan akademiknya agar dapat diakses sepenuhnya secara daring dari mana saja. Pendekatan ini secara tak langsung mengeliminasi kebutuhan mobilitas harian jutaan mahasiswa menuju ruang kelas fisik.
Rektor UT, Prof. Dr. Ali Muktiyanto, menegaskan bahwa penghargaan ini menjadi pengakuan publik atas kontribusi nyata seluruh sivitas akademika UT terhadap agenda ekonomi hijau nasional.
“Penghargaan ini sangat penting dan bermakna bagi UT. Ini menjadi bukti nyata publik mengakui peran signifikan UT dalam ekonomi hijau. Mahasiswa UT tidak perlu mengonsumsi BBM untuk mendapatkan pembelajaran, tidak harus datang ke kampus—melainkan kampus yang datang ke pintu rumah mahasiswa. Dengan begitu, kita menghemat emisi karbon, menghemat BBM, dan memberikan sumbangsih nyata bagi bumi,” tegas Prof. Ali.
Konsistensi UT Go Green dan Pengakuan Global
Komitmen ramah lingkungan di tubuh UT sejatinya telah dirintis sejak tahun 2010 melalui gerakan UT Go Green. Gerakan ini mencakup berbagai aksi penyeimbangan ekosistem, mulai dari efisiensi penggunaan kertas (paperless), penanaman pohon, pembuatan lubang biopori, pembangunan danau resapan buatan, hingga penerapan arsitektur gedung hemat energi (eco-building).
Langkah tersebut kemudian dilembagakan secara menyeluruh melalui kerangka UT Green University (UTGU) yang mengintegrasikan prinsip keberlanjutan pada infrastruktur, tata kelola limbah, energi, hingga kegiatan Tri Dharma Perguruan Tinggi (pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat).
Integritas hijau UT pun diakui di kancah internasional. Dalam pemeringkatan UI GreenMetric World University Rankings 2025, Universitas Terbuka sukses bertengger di peringkat 269 dunia dan 34 secara nasional.
Bagi UT, Anugerah Ekonomi Hijau bukan sekadar capaian seremonial, melainkan sebuah penegasan filosofis: bahwa perluasan akses pendidikan tinggi dan kepedulian terhadap kelestarian lingkungan dapat berjalan berdampingan tanpa harus mengorbankan salah satunya.
Lewat satu perjalanan kendaraan yang berhasil dihindari dan satu layanan akademik yang beralih ke ranah digital, UT membuktikan bahwa efisiensi pendidikan sanggup menciptakan kontribusi ekologis yang raksasa. Membawa lebih banyak orang menuju masa depan yang cerdas harus selaras dengan memastikan bumi yang mereka huni tetap layak untuk ditinggali.