JAKARTA – Hujan meteor Eta Aquarids hingga kemunculan Blue Moon akan menghiasi langit Indonesia sepanjang Mei 2026. Dua fenomena astronomi ini diprediksi menjadi momen menarik bagi para pecinta langit malam karena dapat disaksikan langsung tanpa memerlukan peralatan khusus.
Selain menawarkan pemandangan indah, fenomena tersebut juga menjadi kesempatan bagi masyarakat untuk mengenal lebih dekat berbagai peristiwa yang terjadi di luar angkasa.
Fenomena astronomi selalu menarik perhatian masyarakat karena menghadirkan pemandangan alam yang tidak biasa. Selain indah dipandang, berbagai peristiwa langit ini juga menjadi momen edukasi untuk mengenal lebih jauh tentang tata surya dan benda langit yang mengelilingi Bumi.
Salah satu fenomena yang paling dinantikan pada Mei 2026 adalah hujan meteor Eta Aquarids. Hujan meteor ini dikenal sebagai salah satu hujan meteor terbaik setiap tahunnya karena menghasilkan lintasan cahaya cepat dan terang di langit malam.
Fenomena tersebut berasal dari sisa debu Komet Halley yang memasuki atmosfer Bumi dan terbakar sehingga terlihat seperti “bintang jatuh”.
Menurut sejumlah laporan astronomi, hujan meteor Eta Aquarids aktif sejak pertengahan April hingga akhir Mei 2026. Namun puncak aktivitasnya diperkirakan terjadi pada malam 5 Mei hingga dini hari 6 Mei 2026.
Pada waktu tersebut, masyarakat di wilayah Indonesia berkesempatan melihat puluhan meteor melintas dalam satu jam, terutama di lokasi minim polusi cahaya.
Pengamatan terbaik dilakukan menjelang subuh ketika titik radian meteor berada cukup tinggi di langit timur. Para pengamat dianjurkan mencari lokasi gelap seperti area pegunungan, pantai, atau dataran tinggi agar cahaya kota tidak mengganggu pandangan.
Selain itu, mata juga perlu beradaptasi dengan kondisi gelap sekitar 20 hingga 30 menit agar meteor yang redup dapat terlihat lebih jelas.
Pengamatan terbaik dilakukan menjelang subuh ketika titik radian meteor berada cukup tinggi di langit timur. Para pengamat dianjurkan mencari lokasi gelap seperti area pegunungan, pantai, atau dataran tinggi agar cahaya kota tidak mengganggu pandangan. Selain itu, mata juga perlu beradaptasi dengan kondisi gelap sekitar 20 hingga 30 menit agar meteor yang redup dapat terlihat lebih jelas.
Fenomena Eta Aquarids memiliki hubungan erat dengan Komet Halley, salah satu komet paling terkenal dalam sejarah astronomi. Setiap kali Bumi melintasi jalur debu yang ditinggalkan komet tersebut, partikel-partikel kecil akan memasuki atmosfer dan menghasilkan kilatan cahaya yang dikenal sebagai hujan meteor. Meteor Eta Aquarids terkenal memiliki kecepatan tinggi dan jejak cahaya panjang sehingga tampak sangat memukau di langit malam.
Selain Eta Aquarids, masyarakat Indonesia juga akan disuguhkan fenomena Blue Moon pada akhir Mei 2026. Blue Moon bukan berarti bulan akan berubah warna menjadi biru, melainkan istilah astronomi untuk menyebut bulan purnama kedua yang muncul dalam satu bulan kalender yang sama. Fenomena ini tergolong langka karena tidak terjadi setiap tahun.
Blue Moon diperkirakan terjadi pada 31 Mei 2026 dan dapat diamati dari berbagai wilayah Indonesia saat malam cerah. Fenomena ini menjadi menarik karena Mei 2026 memiliki dua fase bulan purnama dalam satu bulan, sesuatu yang cukup jarang terjadi dalam kalender astronomi.
Kemunculan Blue Moon sering kali menarik perhatian fotografer langit dan pengamat astronomi karena memberikan pemandangan bulan yang tampak lebih besar dan terang di cakrawala malam.
Meski disebut Blue Moon, warna bulan umumnya tetap putih kekuningan seperti bulan purnama biasa. Istilah “blue” lebih merujuk pada kelangkaan fenomenanya. Dalam beberapa kondisi tertentu, bulan memang bisa tampak kebiruan akibat partikel debu atau asap di atmosfer, namun kondisi tersebut sangat jarang terjadi.
Fenomena Blue Moon juga menjadi kesempatan menarik bagi masyarakat untuk menikmati langit malam tanpa memerlukan alat khusus. Pengamatan dapat dilakukan langsung dengan mata telanjang. Namun penggunaan teleskop atau kamera dengan lensa tele dapat membantu melihat detail permukaan bulan dengan lebih jelas.
Para pengamat astronomi menyarankan masyarakat untuk memeriksa prakiraan cuaca sebelum melakukan pengamatan. Langit cerah menjadi faktor utama keberhasilan menyaksikan fenomena langit seperti hujan meteor maupun Blue Moon. Selain itu, mengurangi penggunaan lampu terang dan memilih area terbuka akan membantu meningkatkan kualitas pengamatan.
Fenomena astronomi Mei 2026 menunjukkan bahwa langit malam selalu menyimpan keindahan yang menarik untuk dinikmati. Dari kilatan meteor yang melintas cepat hingga cahaya bulan purnama yang terang, seluruh peristiwa tersebut menjadi pengingat bahwa alam semesta memiliki banyak kejadian luar biasa yang dapat diamati langsung dari Bumi.
Bagi masyarakat yang ingin mengabadikan momen ini, kamera ponsel modern pun sudah cukup untuk memotret langit malam apabila digunakan dengan pengaturan yang tepat. Penggunaan tripod dan mode malam dapat membantu menghasilkan gambar lebih stabil dan terang.
Dengan hadirnya hujan meteor Eta Aquarids dan Blue Moon dalam satu bulan yang sama, Mei 2026 menjadi waktu yang tepat bagi pecinta astronomi untuk menikmati keindahan langit malam Indonesia. (MK)



