Tiga tahun setelah diluncurkan sebagai “pratinjau riset sederhana” pada 30 November 2022, ChatGPT kini mencatat 800 juta pengguna aktif mingguan dan diproyeksikan menembus 1 miliar sebelum akhir tahun.
Namun, tonggak besar ini hadir di tengah persaingan paling ketat yang pernah dihadapi OpenAI, terutama dari Alphabet melalui Google, serta keraguan mengenai apakah teknologi chatbot ini benar-benar mendekati kecerdasan buatan umum (AGI) atau sekadar sistem pencocokan pola tingkat tinggi.
Google Menekan dengan Gemini 3 Pro
Peluncuran Gemini 3 Pro pada 18 November memicu evaluasi ulang strategi internal OpenAI. CEO Sam Altman dilaporkan memperingatkan karyawan untuk bersiap menghadapi “masa sulit dan hambatan ekonomi sementara.”
Gemini 3 saat ini menempati peringkat teratas benchmark AI dengan skor 1324, sementara GPT-5.1 berada di posisi di bawahnya dengan skor 1220. CEO Salesforce bahkan menyebut bahwa ia beralih ke Gemini 3 karena lonjakan signifikan dalam kemampuan penalaran dan kecepatan.
Anton Dahbura, Co-Director Johns Hopkins Institute for Assured Autonomy, menyebut ChatGPT sebagai pemicu “periode terobosan” AI modern. Survei Pew Research Center menunjukkan sekitar sepertiga orang dewasa Amerika, dan hampir 60% generasi di bawah 30 tahun, telah menggunakan alat ini.
ChatGPT juga memegang rekor sebagai aplikasi konsumen dengan pertumbuhan tercepat, mencapai 100 juta pengguna bulanan hanya dalam hitungan bulan setelah peluncurannya.
Tantangan Teknologi dan Tekanan Finansial
Meski mengalami peningkatan kemampuan, masalah teknis inti tetap belum teratasi. Studi Universitas Deakin menemukan bahwa ChatGPT memalsukan sekitar 20% referensi akademis, dengan 56% di antaranya palsu atau mengandung kesalahan.
Kritik menilai halusinasi, penalaran yang tidak stabil, serta ketidakmampuan belajar secara mandiri masih menjadi persoalan utama. Pada Agustus 2025, Altman mengakui bahwa GPT-5 belum memenuhi standar AGI.
OpenAI juga menghadapi tantangan finansial besar: kerugian bersih mencapai $13,5 miliar pada paruh pertama 2025, meskipun pendapatan mencapai $4,3 miliar. Perusahaan memproyeksikan kerugian tahunan hingga 2028, dengan potensi kerugian operasional $74 miliar, dan menargetkan profitabilitas pada 2030.
Studi MIT Media Lab menunjukkan bahwa 95% organisasi belum melihat ROI terukur dari investasi AI, sementara karyawan menghabiskan 41% waktu kerja untuk memverifikasi dan memperbaiki dokumen yang dihasilkan AI.
Dampak ChatGPT lebih luas dari sekadar produktivitas—penelitian menunjukkan bahwa tool AI ini telah berpengaruh pada pengambilan keputusan moral dan penilaian, mirip dengan efek konsultasi ahli.
