JAKARTA – Pemerintah terus memperluas pelaksanaan Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) Sekolah yang hingga pertengahan Juli 2026 telah melayani jutaan peserta didik di berbagai daerah Indonesia.
Program CKG Sekolah mencatat 8.824.185 siswa telah mengikuti pemeriksaan kesehatan sejak 1 Januari hingga 14 Juli 2026 melalui layanan yang digelar di lingkungan sekolah.
Capaian tersebut berlangsung di 96.567 sekolah yang tersebar di 511 kabupaten dan kota, sekaligus menunjukkan percepatan pelaksanaan program sejak diluncurkan secara nasional pada 4 Agustus 2025.
Deputi Bidang Kemitraan dan Hubungan Media Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI, Kurnia Ramadhana, menjelaskan program menyasar peserta didik usia 7-17 tahun.
Pelaksanaan CKG Sekolah dilakukan serentak mulai jenjang SD, SMP, SMA, Sekolah Luar Biasa (SLB), hingga pondok pesantren dengan dukungan Puskesmas di masing-masing wilayah.
“Sejak 1 Januari hingga 14 Juli 2026, CKG Sekolah sudah melayani 8.824.185 siswa di 96.567 sekolah yang tersebar di 511 kabupaten/kota,” ujar Kurnia dalam konferensi pers, Rabu (22/7).
Pemeriksaan kesehatan dilakukan langsung di sekolah sesuai jadwal kunjungan Puskesmas sehingga peserta didik tidak perlu mendatangi fasilitas kesehatan secara mandiri.
Layanan CKG Sekolah tidak hanya berfokus pada pemeriksaan fisik, tetapi juga mencakup evaluasi kondisi kejiwaan sebagai langkah deteksi dini berbagai gangguan kesehatan anak.
“Beberapa jenis pemeriksaan yang dilakukan pada anak yaitu tingkat aktivitas fisik, anemia pada remaja putri, pemeriksaan mata, telinga, gigi, hingga kejiwaan,” imbuhnya.
Pemerintah menargetkan sebanyak 50.255.073 peserta didik dapat mengikuti CKG Sekolah sepanjang 2026 di 303.263 satuan pendidikan di seluruh Indonesia.
Target tersebut terdiri atas 184.714 SD, 68.109 SMP, 43.032 SMA, 4.048 pondok pesantren, serta 3.360 Sekolah Luar Biasa.
Data Kementerian Kesehatan menunjukkan hasil pemeriksaan masih menemukan sejumlah persoalan kesehatan yang memerlukan perhatian serius di lingkungan sekolah.
Masalah paling banyak ditemukan adalah karies atau gigi berlubang yang dialami 40,8 persen siswa selama pelaksanaan pemeriksaan.
Selain itu, sebanyak 27,3 persen remaja putri mengalami anemia, sedangkan 21,7 persen siswa teridentifikasi memiliki tekanan darah tinggi atau hipertensi.
Pemeriksaan juga menemukan 6,9 persen siswa mengalami serumen impaksi atau penumpukan kotoran telinga dan 6,7 persen lainnya mengalami obesitas.
Hasil tersebut menjadi dasar pemerintah memperkuat program promotif dan preventif agar kualitas kesehatan peserta didik semakin meningkat sejak usia sekolah.
“Program ini bermanfaat besar bagi siswa, orang tua, serta sekolah sebagai penyelenggara pendidikan,” pungkasnya.***