MOSKOW, RUSIA — Pemerintah Rusia mulai mengetatkan belanja negara setelah defisit anggaran federal melonjak jauh di atas target sepanjang 2026. Moskow memangkas belanja nonmiliter hingga 35 persen dan meminta lembaga federal melakukan efisiensi pegawai hingga 15 persen.
Kebijakan tersebut menjadi langkah pemerintah untuk meredam tekanan fiskal yang semakin besar di tengah tingginya biaya perang. Meski melakukan pemangkasan di sejumlah sektor, pemerintah Rusia tetap memprioritaskan anggaran untuk pertahanan, keamanan sosial, gaji pegawai negeri, serta pembayaran utang.
Data sistem Electronic Budget Rusia per 24 Agustus 2026 menunjukkan defisit anggaran federal telah mencapai 8,654 triliun rubel. Nilai itu jauh melampaui target defisit yang sebelumnya ditetapkan pemerintah sebesar 3,8 triliun rubel untuk sepanjang tahun ini.
Tekanan terhadap keuangan negara sebenarnya telah terlihat sejak awal 2026. Pada Januari-April, defisit tercatat sekitar 5,8-5,9 triliun rubel atau 2,5 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Angka tersebut hampir dua kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Defisit kemudian terus melebar. Hingga akhir Juli, akumulasinya mencapai 6,5 triliun rubel atau sekitar 2,8 persen dari PDB. Memasuki Agustus, nilainya kembali meningkat hingga menembus 8,654 triliun rubel.
Dengan perkembangan tersebut, proyeksi internal pemerintah Rusia memperkirakan defisit pada akhir 2026 dapat mencapai 3,2-3,8 persen dari PDB. Secara nominal, nilainya diperkirakan berada di kisaran 9 triliun rubel.
Pemerintah Klaim Kondisi Masih Terkendali
Di tengah membesarnya defisit, pemerintah Rusia berupaya memberikan sinyal bahwa kondisi fiskal negara masih dapat dikendalikan. Menteri Keuangan Rusia Anton Siluanov bahkan menyatakan tidak ada persoalan serius dalam anggaran negara.
“Anggaran tidak memiliki masalah sama sekali dan sepenuhnya didukung oleh sumber daya,” kata Siluanov dalam wawancara dengan stasiun televisi Rossiya-1, sebagaimana dikutip Bloomberg, Minggu (29/8/2026).
Namun, laporan Bloomberg yang mengutip sumber internal pemerintah menyebut kondisi yang dihadapi Kementerian Keuangan tidak sepenuhnya sejalan dengan pernyataan tersebut.
Siluanov disebut telah menyampaikan peringatan secara tertutup kepada Perdana Menteri Mikhail Mishustin sejak April 2026. Dalam peringatan itu, dia menyoroti risiko defisit kas yang berpotensi memengaruhi kemampuan pemerintah memenuhi sejumlah kewajibannya sesuai jadwal.
Tekanan tersebut tercermin dari posisi saldo rekening tunggal perbendaharaan federal Rusia yang sempat berada pada angka minus sekitar 5,5 triliun rubel atau setara USD65,3 miliar.
Kremlin tetap berupaya meredam kekhawatiran mengenai kondisi fiskal tersebut. Juru Bicara Kremlin Dmitry Peskov mengakui bahwa pelebaran defisit memberikan tekanan terhadap keuangan negara, tetapi menegaskan pemerintah masih mampu mengelolanya.
Biaya Pertahanan Jadi Beban Besar
Salah satu faktor utama yang menekan anggaran Rusia adalah besarnya kebutuhan pembiayaan sektor pertahanan dan keamanan. Tingginya pengeluaran tersebut berkaitan dengan keberlangsungan operasi militer Rusia.
Laporan *Financial Times* memperkirakan tambahan belanja pertahanan dan keamanan pada 2026 dapat mencapai 2-4 triliun rubel. Tambahan pengeluaran itu berpotensi semakin memperbesar tekanan terhadap ruang fiskal pemerintah.
Di sisi lain, pemerintah juga harus memenuhi berbagai kewajiban yang sulit dipangkas. Belanja untuk pertahanan, jaminan sosial, gaji pegawai publik, dan pembayaran utang menyerap porsi besar anggaran negara.
Kondisi tersebut membuat pemerintah harus mencari ruang penghematan dari pos belanja lain. Karena itu, pemangkasan belanja nonmiliter hingga 35 persen dan rencana efisiensi jumlah pegawai federal hingga 15 persen menjadi bagian dari upaya menahan laju pengeluaran.
Pendapatan Energi Belum Cukup
Tekanan tidak hanya berasal dari sisi belanja. Pemerintah Rusia juga menghadapi tantangan dalam mempertahankan penerimaan negara, terutama dari sektor energi.
Penerimaan pajak minyak memang sempat meningkat dan mencapai level tertinggi dalam 15 bulan. Kenaikan tersebut terjadi setelah harga minyak terdorong oleh meningkatnya ketegangan di kawasan Selat Hormuz.
Namun, peningkatan penerimaan dari sektor minyak belum mampu menutup kesenjangan fiskal yang semakin besar. Dengan defisit yang telah mencapai 8,654 triliun rubel pada Agustus, tekanan terhadap anggaran Rusia tetap tinggi.
Situasi tersebut membuat kemampuan pemerintah untuk melakukan penyesuaian fiskal menjadi semakin terbatas. Di satu sisi, Moskow perlu mengendalikan defisit dan menjaga arus kas negara. Di sisi lain, sejumlah pos belanja utama, khususnya pertahanan, tetap dipertahankan.
Tekanan fiskal diperkirakan masih akan berlanjut selama Rusia mempertahankan belanja pertahanan pada tingkat tinggi. Kondisi itu juga muncul menjelang pemilihan umum parlemen Rusia yang dijadwalkan berlangsung pada September, sehingga ruang pemerintah untuk melakukan perubahan kebijakan fiskal secara drastis menjadi semakin terbatas.



