Pebalap Ferrari, Lewis Hamilton, pasang badan membela tim strategi Scuderia Ferrari pasca mendapat gelombang kritik pedas akibat kekeliruan pemilihan ban pada ajang F1 GP Sepang, Malaysia.
Peluang Ferrari untuk merebut podium utama di Sepang sempat berantakan setelah tim memutuskan memulai balapan menggunakan ban kering (slick tyres) di atas lintasan yang masih basah. Alhasil, Hamilton dan Charles Leclerc yang start dari posisi kedua dan keempat melorot drastis ke barisan belakang.
Meski demikian, aksi bangkit (recovery drive) yang luar biasa dari kedua pebalap mampu menyelamatkan muka Ferrari. Hamilton berhasil mengamankan podium ketiga, sementara Leclerc finis di urutan keempat.
Sorotan tajam yang mengarah ke garasi Ferrari dinilai Hamilton terlalu berlebihan. Pebalap veteran berusia 41 tahun tersebut menegaskan bahwa tim lain tidak mendapatkan tekanan media seluar biasa Ferrari, padahal McLaren juga melakukan blunder serupa.
“Entah mengapa, sebagai tim, kami selalu mendapat kritik jauh lebih keras dibanding siapapun. McLaren membuat keputusan dan kesalahan yang persis sama, namun tidak ada satu orang pun yang meributkannya,” ujar Hamilton menjelang F1 GP Singapura.
Bukan Salah Tim Strategi, Keputusan Diambil Kolektif
Juara dunia tujuh kali tersebut meluruskan bahwa keputusan menggunakan ban kering diambil secara kolektif, bukan atas kehendak sepihak dari tim ahli strategi.
“Ini bukan salah tim strategi. Sayangnya, mereka selalu jadi pihak yang paling disalahkan. Keputusan itu diambil bersama oleh saya, Fred Vasseur (Prinsipal Tim), Matteo Togninalli (Kepala Enginering), dan insinyur saya. Kami mengumpulkan semua ide dan informasi ke dalam diskusi,” jelas Hamilton.
Hamilton mengungkapkan bahwa dirinya sempat menyarankan penggunaan ban basah (intermediates) saat memantau kondisi lintasan dari pit lane. Namun, perbedaan sudut pandang dari anggota tim lain akhirnya membuat ia luluh dan menyetujui saran penggunaan ban kering.
“Saya sempat bilang bahwa lintasan basah dan kita harus pakai ban inter. Namun ketika tiga orang memberikan sudut pandang berbeda, Anda akhirnya teryakinkan. Terkadang naluri Anda benar, tetapi begitulah cara kerja sebuah tim. Kami sudah berdiskusi panjang dan berbenah agar bisa mengambil keputusan yang lebih konsisten dan tepat di masa depan,” pungkasnya.