Tekanan terhadap nilai tukar rupiah kian nyata. Direktur Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia (BI), Juli Budi Winantya, mengungkapkan bahwa penguatan dolar AS yang masif terjadi akibat ketidakpastian global menyusul perang AS-Iran yang diprediksi akan berlangsung lama.
Konflik ini memicu gangguan distribusi besar-besaran yang berujung pada meroketnya harga minyak mentah dunia, gas, hingga komoditas pangan global.
Skenario “Higher for Longer” The Fed
Kondisi dunia yang tidak menentu membuat pertumbuhan ekonomi global dipangkas menjadi 3%, sementara inflasi justru membengkak ke angka 4,2%. Situasi ini membuat bank sentral AS, The Fed, diprediksi akan menahan suku bunga tingginya lebih lama dari perkiraan semula.
“Daya tarik investasi aset keuangan di AS meningkat drastis. Akibatnya, terjadi pelarian modal dari negara berkembang menuju AS, yang membuat dolar menguat terhadap hampir semua mata uang dunia,” jelas Juli dalam FGD Bank Indonesia di Bandung, Jumat (24/4/2026).
Ekonomi Domestik Tetap Melawan
Meski dihantam sentimen global, Bank Indonesia tetap optimis dengan fundamental ekonomi dalam negeri. Pertumbuhan ekonomi nasional tahun ini masih diproyeksikan berada di kisaran 4,9% hingga 5,7%, didukung oleh berbagai stimulus fiskal dan kebijakan moneter yang solid.
Inflasi domestik pun dijaga ketat pada target 2,5% (±1%). “Kita memiliki bauran kebijakan yang kuat untuk memastikan ekonomi kita tetap tumbuh di tengah tekanan eksternal,” imbuh Juli.
Intervensi Habis-habisan Bank Indonesia
Bank Indonesia memastikan tidak akan tinggal diam melihat rupiah terus tertekan. Dengan posisi cadangan devisa (Cadev) sebesar US$148,2 miliar per Maret 2026, BI terus melakukan intervensi pasar secara intensif.
“Intensitas intervensi BI semakin kuat, tidak hanya di pasar spot tetapi juga di pasar forward baik dalam maupun luar negeri. Ini adalah bentuk komitmen kami untuk menjaga stabilitas nilai tukar,” tegasnya.
Masyarakat pun diimbau untuk tetap tenang namun waspada, mengingat dinamika pasar valuta asing masih akan sangat bergantung pada perkembangan tensi geopolitik di Timur Tengah dalam beberapa pekan ke depan.