JAKARTA – Penemuan dua kerangka manusia yang hangus terbakar di Gedung ACC, Kwitang, Jakarta Pusat, memicu desakan penyelidikan tuntas dari Anggota Komisi III DPR RI Fraksi PKB, Abdullah atau Gus Abduh. Temuan yang diduga terkait kebakaran massal saat demonstrasi besar-besaran akhir Agustus 2025 ini dinilai membutuhkan pengusutan cepat dan transparan demi kepastian hukum dan keadilan.
“Jangan sampai penemuan kerangka manusia ini menimbulkan banyak spekulasi di tengah masyarakat. Polisi harus mengusut tuntas dan menyampaikan hasilnya secara terbuka kepada publik,” tegas Gus Abduh dalam keterangannya di Jakarta, Minggu (2/11/2025).
Berdasarkan laporan polisi, dua kerangka tersebut ditemukan terkubur di bawah reruntuhan plafon dan puing kebakaran di lantai dua gedung tersebut pada Kamis (30/10/2025). Penemuan terjadi saat tim renovasi membersihkan lokasi pasca-insiden.
Kerangka-kerangka itu langsung dievakuasi ke Rumah Sakit Polri Kramat Jati untuk autopsi forensik lengkap, termasuk pengambilan sampel DNA guna identifikasi korban. Kasus ini semakin menarik perhatian karena lokasi kejadian pernah menjadi pusat kerusuhan dan pembakaran selama aksi unjuk rasa bulan Agustus lalu.
Gus Abduh menekankan bahwa temuan ini bukan sekadar kejadian biasa, melainkan sinyal darurat terkait hilangnya nyawa manusia di tengah chaos demonstrasi.
“Ini menyangkut hak asasi manusia. Polisi tidak boleh terburu-buru mengungkap kasus ini tanpa kejelasan. Harus diungkap seterang-terangnya, siapa korban, penyebab kematian, serta apakah ada unsur pidana atau kelalaian dalam peristiwa tersebut,” lanjutnya.
Politisi PKB ini juga menuntut penyelidikan berjalan profesional dan bebas intervensi, dengan melibatkan tim forensik independen, Komnas HAM, serta cross-check laporan orang hilang dari keluarga korban dan organisasi bantuan hukum.
“Keterbukaan informasi menjadi kunci. Jangan biarkan publik menebak-nebak. Polisi harus menjelaskan perkembangan penyelidikan secara berkala agar masyarakat mendapatkan kepastian,” tegasnya.
Lebih lanjut, Gus Abduh menyoroti urgensi reformasi prosedur pasca-kerusuhan, termasuk penerapan pemeriksaan forensik dini di setiap lokasi kebakaran atau bentrokan untuk mencegah kasus serupa.
“Negara wajib hadir menegakkan keadilan. Dua kerangka yang ditemukan ini bukan sekadar benda bukti, melainkan cerminan dari nyawa yang harus dihormati dan diberi kejelasan,” tutupnya.
Kasus penemuan kerangka manusia di Kwitang ini berpotensi membuka tabir gelap peristiwa demo Agustus 2025, yang menyisakan banyak pertanyaan tentang korban jiwa dan tanggung jawab pihak terkait. Polisi diharapkan segera merilis update resmi untuk meredam spekulasi publik.