MAYBRAT, Papua Barat Daya – Dua pimpinan kelompok Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat – Organisasi Papua Merdeka (TPNPB-OPM) Kodap IV Sorong Raya dilaporkan tewas dalam kontak senjata dengan aparat TNI.
Peristiwa tersebut berlangsung pada Sabtu (3/10) malam di kawasan hutan bagian utara Distrik Aifat, Kabupaten Maybrat.
Panglima Gabungan Wilayah Pertahanan (Pangkogabwilhan) III Letjen TNI Lucky Avianto mengatakan dua tokoh yang tewas ialah Arso Aisnak dan Yohanes KY.
Arso Aisnak diketahui menjabat Komandan Komando Wilayah Pertahanan II Kodap IV Sorong Raya.
Sementara Yohanes KY merupakan Komandan Batalyon Karef Hamit Kodap IV Sorong Raya.
Kontak senjata melibatkan pasukan gabungan Denkul IV Satgas Rajawali V Koops Habema dan Satgas Yonif Marinir.
Pasukan tersebut diperkuat Yonif 764-I/B di bawah kendali Komando Gabungan Wilayah Pertahanan III.
Menurut Lucky, keberadaan kelompok Manfret Fatem terdeteksi melalui pemantauan intelijen sebelum kontak senjata terjadi.
“Keberadaan Kelompok TPNPB-OPM Kodap IV Sorong Raya Pimpinan Manfret Fatem, diketahui dari hasil pantauan BIN, yang menemukan pergerakan mereka saat hendak masuk ke dalam pemukiman warga Distrik Aifat, Kabupaten Maybrat,” ujarnya.
Aparat kemudian disebut lebih dulu menempuh pendekatan persuasif dengan meminta kelompok tersebut menyerahkan diri dan senjata.
Namun, menurut Lucky, kelompok tersebut merespons dengan melepaskan tembakan menggunakan peluru tajam ke arah pasukan TNI.
Ia menyebut Manfret Fatem sebagai pihak yang lebih dahulu melepaskan tembakan sebelum anggota kelompok lainnya ikut bertindak.
“Seluruh pasukan kami selamat, sementara duo pentolan yang menjadi kaki tangan Manfret Fatem, yakni Komandan Komando Wilayah Pertahanan II Kodap IV Sorong Raya Arso Aisnak dan Komandan Batalyon Karef Hamit Kodap IV Sorong Raya Yohanes KY tewas dalam kontak senjata tersebut,” ujarnya.
Setelah dua tokoh tersebut tewas, Manfret Fatem bersama anggota kelompoknya disebut melarikan diri menuju kawasan hutan.
Aparat selanjutnya melakukan pengejaran terhadap pimpinan kelompok dan anggota yang masih tersisa.
Dari lokasi kejadian, pasukan menemukan sejumlah barang yang disebut berkaitan dengan kelompok OPM.
” Di lokasi kami temukan sejumlah barang milik OPM, antar lain satu pucuk senjata api jenis revolver beserta pelurunya, puluhan amunisi senapan mesin otomatis, beberapa bilah senjata tajam, alat komunikasi dan dua lembar bendera bintang kejora,”ujarnya.
Lucky mengatakan operasi pengejaran terhadap Manfret Fatem dan anggota kelompoknya masih berlangsung.
Ia menyebut operasi tersebut ditujukan untuk mencegah terjadinya kembali tindak kekerasan terhadap masyarakat di Papua.
“Saya ingatkan kembali kepada seluruh Anggota TPNPB-OPM, dimanapun kalian berada. TNI-Polri bersama seluruh aparat penegak hukum akan terus mengejar dan menangkap seluruh pelaku kejahatan kemanusiaan di Tanah Papua, baik dalam keadaan hidup atau mati,” ujarnya.
Ia menegaskan seluruh personel TNI di bawah kendali Kogabwilhan III akan menjalankan tindakan berdasarkan ketentuan hukum yang berlaku.
Menurut dia, penerapan Rules of Engagement atau ROE tetap menjadi acuan dalam setiap pelaksanaan operasi.
Ketentuan tersebut, kata Lucky, diperlukan untuk menjaga profesionalisme prajurit sekaligus memastikan penghormatan terhadap hukum dan HAM.
Ia juga menegaskan aparat akan mengambil tindakan tegas dan terukur ketika menghadapi kondisi yang dinilai mendesak.
Prinsip keselamatan masyarakat atau salus populi suprema lex esto disebut tetap menjadi salah satu pedoman operasi TNI di lapangan.***