Harapan suci ratusan calon jemaah untuk menginjakkan kaki di Tanah Suci melalui Hanania Travel berujung pada drama tuntutan pengembalian dana (refund). Puluhan hingga ratusan juta rupiah uang tabungan yang disetorkan para jemaah kini mandek di kantong agen perjalanan tersebut.
Dalam investigasi di kantor cabang Hanania Travel di Gedung EightyEight, kompleks Mal Kota Kasablanka (Kokas), Jakarta Selatan, akumulasi kerugian dari beberapa jemaah yang mengamuk di lokasi saja sudah menyentuh angka hampir Rp260 juta. Dana tersebut merupakan pelunasan untuk kloter keberangkatan Syawal (Maret) 2026 serta kloter Juni–Juli 2026.
Janji Manis Skema Cicilan dan Realisasi Nol Persen
Dilansir dari Kompas.com, salah satu korban, Ifa (31), menceritakan perjuangan panjangnya menagih uang sebesar Rp70 juta yang ia setorkan untuk keberangkatan dirinya dan sang ibunda pada kloter Syawal lalu.
-
16 Maret 2026: Ifa mengajukan refund setelah kloternya resmi dinyatakan gagal berangkat. Pihak travel menjanjikan uang cair dalam 14 hari kerja (jatuh tempo 6 April).
-
6 April 2026: Saat mendatangi kantor, Ifa hanya diberikan janji baru dan diminta waktu tambahan dua minggu karena ada mediasi dengan Kementerian Haji dan Umrah.
-
Hasil Mediasi: Pemilik travel, Farhan, mengaku tidak sanggup membayar utang refund secara tunai sekaligus. Ia menjanjikan skema cicilan tiga tahap: 30%, 30%, dan 40%.
-
28 Mei 2026 (Hari Ini): Menjelang jatuh tempo pembayaran cicilan pertama pada Jumat, 29 Mei, Ifa belum menerima sepeser pun uangnya kembali. Ironisnya, ia justru mendapati rumor di media sosial Threads bahwa proses refund akan ditunda sepihak lagi.
Modus Operandi dan Pengakuan Defisit Sang Owner
Nasib serupa tapi tak sama dialami oleh Sizy (30). Ia telah melunasi biaya umrah hampir Rp70 juta untuk keberangkatan dirinya dan sang adik pada kloter Juni–Juli 2026. Alangkah terkejutnya Sizy saat mendatangi kantor travel dan mendengar langsung dari mulut sang pemilik bahwa kloternya pun resmi batal berangkat.
“Pemiliknya tiba-tiba bilang ke saya, ‘Uang kalian yang Juni–Juli aman kok, saya enggak pakai buat bayar rekanan kloter Syawal’. Tetapi di saat bersamaan, dia justru mengaku kalau kondisi keuangan perusahaannya saat ini sedang defisit,” cetus Sizy menirukan ucapan Farhan.
Firasat buruk juga sempat dirasakan oleh Rosa (50). Ibu rumah tangga ini telah membayarkan uang tunai hampir Rp120 juta untuk paket umrah keluarga beranggotakan empat orang.
“Saya ambil paket Rp29,9 juta per orang. Begitu mendengar kloter Syawal gagal berangkat, hati saya langsung tidak enak,” ungkap Rosa. Meskipun pada April lalu karyawan travel sempat meyakinkan Rosa bahwa kloternya aman, insting Rosa terbukti benar—kloternya kini dipastikan gugur. Rosa menegaskan akan terus memperjuangkan refund agar keluarganya bisa segera mendaftar ke agen travel lain yang lebih kredibel.
Puncak kekesalan para jemaah yang merasa diberikan janji palsu berulang kali akhirnya meledak pada Kamis (28/5/2026) siang. Merasa tidak ada kejelasan dan jenuh dengan alasan defisit, massa calon jemaah yang menggeruduk kantor Hanania Travel akhirnya sepakat menggelandang Farhan selaku pemilik agen ke Mapolda Metro Jaya. Hingga berita ini diturunkan, bos travel tersebut tengah menjalani proses mediasi dan pemeriksaan intensif di Gedung SPKT Polda Metro Jaya.