JAKARTA β Fabinho kembali menjadi sorotan setelah membuka peluang untuk kembali memperkuat Real Madrid pada bursa transfer musim panas ini.
Gelandang asal Brasil itu menegaskan akan menyambut kesempatan tersebut meski belum ada indikasi Real Madrid berniat merekrutnya.
Pemain berusia 32 tahun itu kini membela Al Ittihad setelah meninggalkan Liverpool pada 2023 dan melanjutkan karier di Liga Pro Arab Saudi.
Sebelum bersinar bersama AS Monaco dan Liverpool, Fabinho sempat menjadi bagian dari Real Madrid pada awal perjalanan profesionalnya.
Nama Fabinho kembali dikaitkan dengan Los Blancos seiring perubahan besar yang disebut terjadi di bawah arahan Jose Mourinho.
Laporan menyebut Mourinho tengah membangun ulang kekuatan Real Madrid setelah mengambil alih kursi pelatih dari Alvaro Arbeloa.
Sementara itu, Arbeloa disebut melanjutkan karier sebagai pelatih Fulham usai menggantikan Xabi Alonso pada pergantian tahun.
Spekulasi kepulangan Fabinho muncul setelah Brasil tersingkir dari Piala Dunia usai kalah dari Norwegia.
Seusai pertandingan, Fabinho mendapat pertanyaan mengenai kemungkinan kembali ke Santiago Bernabeu.
βApakah saya ingin kembali ke Real Madrid? Siapa yang tidak ingin bermain di Real Madrid? Itu adalah klub terbaik di dunia,β kata Fabinho seperti dikutip Liverpool.com, Rabu.
Fabinho tampil sebagai pemain pengganti dalam tiga pertandingan bersama Brasil sepanjang turnamen tersebut.
Namun, performa Tim Samba dinilai jauh dari harapan sehingga gagal memberikan dampak besar di ajang bergengsi tersebut.
Hasil mengecewakan itu memicu kritik keras dari mantan pemain sekaligus pengamat sepak bola Brasil, Neto.
βGenerasi ini tidak memenangkan apa pun. Hanya ada enam pemain yang meraih satu gelar Copa America dan hanya itu.β
βSejak awal semuanya memalukan, termasuk apa yang terjadi sebelum pertandingan tersebut. Kampanye ini sangat memalukan dan para pemain ini adalah pecundang. Ini generasi penuh ilusi.β
Media Brasil juga menilai strategi Carlo Ancelotti gagal mengangkat performa tim meski dihuni banyak pemain bertalenta.
Pergantian pemain yang dilakukan pelatih asal Italia itu bahkan dianggap membuat permainan Brasil semakin kehilangan arah.
βBrasil tersingkir dari Piala Dunia dan rencana Ancelotti gagal total.β
βBrasil memilih memberikan penguasaan bola kepada Norwegia dan mengandalkan serangan balik cepat, tetapi strategi itu hampir tidak berhasil.β
βKegagalan penalti Bruno Guimaraes memang mengubah jalannya pertandingan, tetapi gaya bermain tersebut tidak mencerminkan tradisi Brasil.β
βTidak ada alasan menyebut hasil ini tidak adil karena Brasil memang gagal tampil seperti identitas sepak bolanya sendiri.β***