JAKARTA – Rangkaian gempa susulan di Flores, Nusa Tenggara Timur, masih menunjukkan aktivitas tinggi setelah gempa utama magnitudo 7,7 pada 15 Agustus 2026.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat 6.409 gempa susulan hingga Senin, 24 Agustus 2026 pukul 05.00 WIB.
Data tersebut memperlihatkan bahwa kondisi seismik di wilayah terdampak belum sepenuhnya stabil setelah gempa utama melanda kawasan Flores.
Dari seluruh kejadian, gempa susulan terkuat mencapai magnitudo 6,2, sedangkan yang terlemah tercatat bermagnitudo 1,1.
“Sebanyak 33 gempa susulan tercatat memiliki magnitudo di atas magnutudo 5. Dan 139 kejadian gempa susulan di antaranya dirasakan oleh masyarakat,” kata BMKG.
Aktivitas Gempa Belum Menunjukkan Peluruhan Konsisten
Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Wijayanto mengatakan aktivitas gempa susulan masih belum sepenuhnya mengalami penurunan.
“Aktivitas gempa susulan pada beberapa hari pertama masih relatif tinggi dan belum menunjukkan pola peluruhan yang signifikan,” kata Wijayanto.
Menurut analisis BMKG, rangkaian gempa susulan masih berpotensi berlangsung selama tiga hingga empat minggu setelah gempa utama.
Jumlah kejadian gempa juga berubah dari hari ke hari sehingga pola penurunannya belum dapat disebut sederhana.
Pada hari pertama, BMKG mencatat 704 gempa susulan, kemudian jumlahnya meningkat menjadi 746 kejadian pada hari kedua.
Aktivitas berikutnya tercatat sebanyak 668, 649, dan 627 gempa pada hari ketiga hingga hari kelima.
Gempa Kembali Meningkat pada Hari Keenam
Memasuki hari keenam, aktivitas seismik kembali melonjak dengan 802 gempa susulan yang tercatat dalam periode 24 jam.
“Namun, aktivitas kembali meningkat pada hari keenam dengan 802 gempa bumi susulan dalam periode 24 jam. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa aktivitas seismik di wilayah terdampak masih berlangsung secara dinamis,” ucap Wijayanto.
Sejumlah gempa susulan memiliki kekuatan cukup besar hingga menghasilkan guncangan yang dirasakan masyarakat di wilayah terdampak.
BMKG mencatat beberapa kejadian menghasilkan intensitas guncangan IV hingga VI Modified Mercalli Intensity atau MMI.
Salah satu gempa signifikan terjadi pada 19 Agustus 2026 pukul 23.17 WIB dengan kekuatan mencapai magnitudo 5,6.
Sehari kemudian, dua gempa bermagnitudo 5,8 kembali terjadi masing-masing pada pukul 05.45 WIB dan 09.47 WIB.
“Guncangan tersebut dilaporkan memicu kerusakan tambahan pada sejumlah bangunan dan jembatan yang sebelumnya telah terdampak gempa. Di beberapa lokasi, gempa susulan juga menyebabkan terjadinya tanah longsor,” ujar Wijayanto.
Aktivitas Gempa Membentuk Sejumlah Klaster
Analisis hiposenter yang dilakukan BMKG menunjukkan gempa susulan tidak tersebar secara merata di seluruh wilayah terdampak.
Aktivitas tersebut justru terkonsentrasi dalam beberapa klaster yang berada di sekitar zona sumber gempa utama.
Klaster terbesar teridentifikasi di sekitar sumber gempa magnitudo 7,7 yang berada di sebelah utara Nagekeo.
Pola tersebut memanjang mengikuti Flores Back-arc Thrust yang menjadi salah satu struktur tektonik penting di kawasan Flores.
BMKG juga menemukan klaster lain di bagian barat sumber gempa utama, tepatnya di wilayah utara Kabupaten Manggarai.
Perubahan pola sebaran juga terlihat berdasarkan waktu sejak gempa utama terjadi pada 15 Agustus 2026.
Pada empat hari pertama, gempa susulan tersebar di sejumlah klaster dari kawasan timur hingga barat zona terdampak.
Memasuki hari kelima dan keenam, aktivitas lebih banyak terkonsentrasi pada klaster bagian barat.
Sementara itu, aktivitas pada klaster bagian timur mulai menunjukkan kecenderungan menurun secara bertahap.
BMKG Pantau Gempa Selama 24 Jam
BMKG terus mengawasi perkembangan gempa susulan secara real-time untuk mengidentifikasi perubahan aktivitas seismik di wilayah terdampak.
Pemantauan mencakup jumlah kejadian, magnitudo, lokasi sumber, arah perkembangan aktivitas, hingga karakteristik sumber gempa.
“Untuk memastikan keterbukaan informasi, BMKG mempublikasikan pembaruan data aktivitas gempa bumi susulan secara rutin dua kali sehari. Yaitu setiap pukul 05.00 WIB dan 17.00 WIB,” ujar Wijayanto.
Masyarakat diminta mengikuti informasi gempa terbaru melalui kanal resmi BMKG dan tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi.
Kewaspadaan tetap diperlukan karena aktivitas gempa susulan masih dinamis dan sejumlah kejadian sebelumnya telah menimbulkan guncangan kuat.***