JAKARTA — Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim menghubungi Presiden Prabowo Subianto untuk membahas persoalan kabut asap lintas batas yang berkaitan dengan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia. Pemerintah Indonesia pun menjelaskan langkah penanganan yang telah dilakukan, mulai dari pengerahan puluhan ribu personel hingga operasi pemadaman melalui udara.
Menteri Luar Negeri (Menlu) RI Arrmanatha Nasir membenarkan komunikasi antara kedua pemimpin negara tersebut. Pemerintah Indonesia juga menjalin komunikasi bilateral dengan Malaysia untuk menjelaskan upaya pemadaman karhutla yang tengah berlangsung di sejumlah wilayah, termasuk Kalimantan.
Arrmanatha mengatakan dirinya telah berbicara langsung dengan Menlu Malaysia untuk menyampaikan perkembangan penanganan kebakaran dan langkah-langkah yang ditempuh pemerintah Indonesia.
“Kita sudah berkomunikasi. Saya sudah berbicara juga dengan Menteri Luar Negeri Malaysia,” ujar Arrmanatha saat ditemui awak media di Jakarta, Sabtu (10/10/2026).
Menurut Arrmanatha, pemerintah terus mengintensifkan penanganan karhutla melalui operasi darat dan udara. Langkah tersebut dilakukan untuk memadamkan titik api sekaligus menekan penyebaran asap yang berpotensi berdampak hingga ke wilayah negara tetangga.
Pemerintah mengerahkan lebih dari 60.000 personel gabungan untuk menangani kebakaran di sejumlah titik rawan. Selain itu, sebanyak 48 helikopter dan pesawat disiagakan guna mendukung operasi pemadaman serta memantau perkembangan kondisi cuaca.
“Kita sudah jelaskan langkah-langkah yang telah dilakukan oleh Indonesia, seperti kita sudah menerjunkan lebih dari 60.000 personel, kita telah menerjunkan juga sekitar 48 helikopter dan pesawat untuk melakukan *water bombing* dan juga melihat cuaca,” kata Arrmanatha.
Penggunaan helikopter dan pesawat menjadi bagian dari upaya menjangkau lokasi kebakaran yang membutuhkan penanganan melalui udara. Armada tersebut digunakan untuk melakukan pengeboman air (*water bombing*) sekaligus memantau kondisi cuaca yang berpengaruh terhadap perkembangan kebakaran.
Meski berbagai upaya telah dilakukan, kondisi cuaca masih menjadi tantangan dalam proses pemadaman. Arrmanatha mengakui situasi udara yang kurang mendukung membuat penanganan karhutla belum sepenuhnya mudah dilakukan.
“Memang ini merupakan tantangan karena udaranya yang saat ini tidak berada di pihak kita,” tuturnya.
Pemerintah berharap perubahan cuaca dapat membantu mempercepat penanganan kebakaran. Berdasarkan perkiraan yang disampaikan Arrmanatha, hujan berpotensi turun di wilayah terdampak dalam beberapa hari mendatang.
Curah hujan diharapkan membantu meredakan kebakaran dan mengurangi dampak kabut asap. Namun, pemerintah masih mengandalkan upaya pemadaman yang berlangsung di lapangan untuk mengendalikan titik api.
“Tapi harapan kita segera ini akan reda karena juga diperkirakan cuaca akan ada hujan,” pungkasnya.