JAKARTA – Akhir pekan Grand Prix Sao Paulo 2025 menjadi mimpi buruk bagi Ferrari setelah kedua pembalapnya gagal menyelesaikan balapan di Sirkuit Interlagos. Kegagalan tersebut memperpanjang tren buruk tim asal Maranello itu pada musim Formula 1 tahun ini.
Charles Leclerc harus mengakhiri balapan lebih awal akibat kerusakan pada suspensi dan ban depan kiri setelah insiden yang melibatkan Kimi Antonelli dan Oscar Piastri. Sementara itu, Lewis Hamilton yang sebelumnya tersingkir di sesi Q2, terpaksa mundur di lap pembuka karena mengalami kerusakan lantai mobil yang signifikan.
Dua kali gagal finis membuat Ferrari terlempar ke posisi keempat klasemen konstruktor, tertinggal dari Mercedes dan Red Bull.
Kinerja mengecewakan ini memicu reaksi keras dari Chairman Ferrari, John Elkann, yang jarang memberikan komentar langsung terkait performa tim. Seusai balapan, Elkann secara terbuka mengkritik para pembalapnya dan meminta mereka untuk kembali fokus.
“Ferrari menang ketika bersatu, dan hasil di WEC telah mengajarkan kita hal itu,” ujar Elkann, dikutip dari Autoracer.it. “Ketika semua orang bekerja sama, hal-hal hebat dapat dicapai. Brasil sangat mengecewakan. Di Formula 1, kami memiliki mekanik yang selalu terbaik dalam mengeksekusi pit stop.
Para insinyur bekerja untuk meningkatkan mobil. Sisanya belum optimal. Kami memiliki pembalap yang perlu fokus pada balapan, lebih sedikit bicara, dan mengingat bahwa balapan penting masih ada di depan — dan bukan tidak mungkin untuk finis di posisi kedua.
Ini adalah pesan terpenting yang datang dari Bahrain: ketika Ferrari adalah sebuah tim, kami menang.”
Musim 2025 Jadi Pukulan Berat untuk Ferrari
Musim Formula 1 2025 menjadi salah satu periode paling mengecewakan bagi Ferrari dalam beberapa tahun terakhir. Tim yang awalnya digadang-gadang menjadi pesaing utama perebutan gelar justru belum meraih satu pun kemenangan Grand Prix.
Ferrari kini berada di posisi keempat klasemen konstruktor, jauh dari ekspektasi tinggi yang muncul setelah kedatangan Lewis Hamilton pada awal musim. Tahun lalu, mereka finis kedua di kejuaraan dengan hanya terpaut 14 poin dari McLaren, dan menutup musim sebagai tim dengan mobil tercepat kedua.
Namun, performa mobil SF-25 justru tidak mampu memenuhi harapan. Leclerc baru mencatat tujuh podium, sementara Hamilton belum sekalipun finis di tiga besar.
Pembalap asal Monako itu juga kerap menyuarakan kekecewaannya terhadap performa tim, yang memicu spekulasi soal masa depannya di Ferrari setelah kontraknya berakhir pada 2027. Di sisi lain, Hamilton disebut telah memberikan masukan teknis secara intensif melalui dokumen pengembangan mobil yang ia serahkan kepada tim sepanjang musim.
Dengan hanya beberapa balapan tersisa, Ferrari kini menghadapi tekanan besar untuk mengakhiri musim dengan catatan positif — sekaligus membuktikan bahwa pesan Elkann tentang “persatuan tim” bukan sekadar retorika.