JAKARTA – Tawaran penghasilan tinggi disebut menjadi salah satu faktor yang membuat sejumlah warga negara Indonesia (WNI) tertarik bergabung dengan militer Rusia di tengah perang yang masih berlangsung.
Pengamat isu militer dan keamanan, Bung Erik, menilai faktor ekonomi tidak bisa dilepaskan dari fenomena tersebut. Menurutnya, kondisi lapangan pekerjaan di Indonesia yang dinilai sulit membuat tawaran pekerjaan dengan penghasilan besar menjadi sangat menarik bagi sebagian orang.
“Diakuilah lapangan pekerjaan di Indonesia ini memang lagi susah,” kata Erik dalam wawancara.
Tawaran Gaji Jadi Daya Tarik
Erik mengatakan, dirinya pernah melihat informasi mengenai tawaran pekerjaan untuk bergabung dengan militer Rusia. Dalam informasi tersebut, penghasilan yang ditawarkan disebut bisa mencapai rata-rata sekitar Rp40 juta per bulan.
“Tawaran dari Rusia sendiri yang saya juga pernah lihat web-nya itu, tawarannya memang menggiurkan ya. Sebulan anggap aja rata-rata Rp40 juta gajinya,” ujar Erik.
Angka tersebut terlihat sangat besar jika dibandingkan dengan rata-rata upah buruh di Indonesia. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat rata-rata upah buruh nasional pada Februari 2026 berada di angka Rp3,29 juta per bulan. Pada periode yang sama, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Indonesia tercatat 4,68 persen dengan sekitar 7,24 juta orang masih menganggur.
Meski demikian, angka Rp40 juta yang disebut Erik merupakan informasi yang ia temukan terkait tawaran tersebut, bukan angka gaji resmi yang berlaku untuk seluruh WNI atau seluruh personel asing dalam militer Rusia.
Gaji Besar, Risiko Juga Tinggi
Menurut Erik, persoalan utamanya bukan hanya mengenai besarnya penghasilan, tetapi juga risiko yang harus ditanggung oleh orang yang menerima tawaran tersebut.
Ia menilai sebagian orang mungkin lebih melihat nominal gaji tanpa mempertimbangkan kemungkinan ditempatkan di wilayah pertempuran.
“Yang gak dipikirkan, kadang yang gak dipikirkan WNI kita ketika join jadi tentara Rusia itu ada risikonya,” kata Erik.
Ia mempertanyakan apakah penghasilan yang ditawarkan sebanding dengan risiko keselamatan yang harus dihadapi.
“Risiko seperti itu apakah sebanding?” lanjutnya.
Erik mengatakan, orang yang bergabung dengan militer Rusia berpotensi menghadapi kondisi perang secara langsung. Karena itu, menurut dia, keputusan tersebut tidak bisa hanya dilihat sebagai persoalan pekerjaan dengan gaji tinggi.
Bukan Hanya Mantan Aparat
Fenomena WNI yang bergabung dengan militer Rusia juga tidak hanya dikaitkan dengan orang yang memiliki latar belakang militer.
Erik menyebut terdapat WNI dari kalangan sipil yang disebut tertarik dengan tawaran tersebut. Kondisi ekonomi dan status pekerjaan menjadi salah satu hal yang menurutnya perlu diperhatikan.
“Yang delapan ini sepengetahuan saya masyarakat sipil ya. Kebetulan juga ada yang menganggur juga,” ujarnya.
Pernyataan tersebut sejalan dengan laporan mengenai delapan WNI yang diduga direkrut untuk bergabung dengan militer Rusia. Informasi mengenai delapan WNI itu sebelumnya diungkap Dinas Intelijen Luar Negeri Ukraina, yang menyebut adanya dokumen terkait perekrutan mereka.
Namun, proses verifikasi terhadap informasi tersebut tetap diperlukan dan status maupun kondisi masing-masing WNI perlu dilihat berdasarkan keterangan resmi pemerintah Indonesia.
Jangan Terjebak Iming-Iming Penghasilan
Erik mengingatkan masyarakat agar tidak hanya melihat besarnya penghasilan ketika mendapatkan tawaran pekerjaan dari negara yang sedang terlibat konflik.
Menurutnya, tawaran pekerjaan dengan nominal besar harus diperiksa secara menyeluruh, terutama jika informasi tersebut berasal dari jalur perekrutan yang tidak jelas.
“Masyarakat juga harus lebih hati-hati apply terkait informasi pekerjaan khususnya dari negara berkonflik, baik dari Rusia atau Ukraina,” kata Erik.
Ia menilai persoalan ini menjadi peringatan bahwa tekanan ekonomi dan sulitnya mendapatkan pekerjaan dapat membuat seseorang mengambil keputusan yang memiliki risiko sangat besar.
Pada akhirnya, angka puluhan juta rupiah per bulan memang terlihat menggiurkan. Namun, ketika pekerjaan tersebut berkaitan langsung dengan medan perang, faktor keselamatan dan kepastian status pekerjaan menjadi hal yang tidak bisa diabaikan.